Providensi Allah Melalui Ketaatan UmatNya

9:32 AM 6 Comments A+ a-


Sebagai anak-anak Tuhan pastinya cerita perumpamaan tentang anak yang hilang sudah familiar kita dengar. Dari cerita itu menurut Saudara, siapa yang hilang? Kalau melihat ceritanya, kita bisa langsung menebak bahwa Si Bungsu-lah yang hilang, karena sudah pergi meninggalkan papa-nya, dan memboroskan harta papa-nya. Namun apabila kita melihat konteks perikop Lukas 15, sebenarnya perumpamaan ini Yesus tujukan kepada orang-orang Farisi dan Ahli Taurat karena mereka bersungut-sungut melihat Yesus bersama-sama dengan orang-orang berdosa. Orang Farisi dan Ahli Taurat itu adalah orang yang tinggal di Bait Allah, tetapi mereka tidak suka ketika Allah dekat dengan pemungut cukai orang berdosa. Penggambaran ini persis sama yang Tuhan Yesus gambarkan di mana Si Sulung tidak suka bahkan bersungut-sungut melihat Bapa-nya kembali menerima Si Bungsu. Maka melihat pemahaman ini Si Sulung pun juga terhilang.
Mengapa Si Sulung juga dikatakan terhilang? Karena walaupun Si Sulung di rumah Bapa-nya namun ia sama sekali tidak pernah MENIKMATI tinggal di rumah Bapa-nya, yang ia pikirkan hanya pesta, dan pesta. “Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku” Luk. 15:29. Fokus hidup Si Sulung bukan menikmati hidup bersama Bapa-nya tetapi hidup dengan menanti kapan Bapa-nya akan membuat pesta bagi-nya.
Apa yang kita bisa pelajari melalui perumpamaan Tuhan Yesus ini? Saudara, penulis melihat seringkali yang terhilang bukan hanya orang-orang yang di luar rumah Tuhan (gereja), tetapi juga bisa yang terhilang adalah orang-orang yang sudah tinggal di dalam gereja, bahkan yang sudah bertahun-tahun melayani di gereja. Si Sulung bertahun-tahun taat, dan melayani Bapa-nya hanya karena ingin diupah yaitu pesta dengan sahabat-sahabat-nya. Hal ini juga sama apabila kita menjadi orang Kristen sama sekali tidak pernah menikmati ketaatan kita kepada Tuhan.
Orang-orang Kristen taat kepada Tuhan karena sebenarnya menunggu upah dari Tuhan, atau memandang Firman Tuhan sebagai Undang-Undang Dasar Peraturan Menjadi Orang Kristen. Kalau kaum ini ditanya kenapa Taat? Maka seringkali jawabannya adalah “Ya harus taat aja, kan uda jadi orang Kristen, nanti Tuhan marah.” Saudara, kalau kita sama Tuhan Cuma gara-gara ingin diupah, dan kita taat sama Firman Tuhan hanya karena kita takut dihukum maka MATILAH IMAN KITA. Maka tidak heran banyak orang Kristen KAPAL SELAM, yaitu orang Kristen yang kadang muncul dan kadang tenggelam. Jadi bagaimana orang Kristen memandang Ketaatan-nya kepada Tuhan? Mari kita belajar dari Yohanes 15:9-11:
"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu;
tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
            Jikalau kamu menuruti perintah-Ku,
kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku,
                        seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

#1. Ketaatan kepada Allah adalah cara Allah untuk kita tetap dapat menikmati Allah dan kasih-Nya di dalam hidup kita. Saudara, maukah kita tiap hari bisa terus hidup merasakan kasih Tuhan? Dengan cara apa kita bisa terus merasakan kasih Tuhan? Tuhan Yesus berkata: Tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Bagaimana caranya “Tinggal di dalam kasih Tuhan”? Saudara, kata “Tinggal di dalam kasih-Ku” muncul 3x pada bagian ini. 2 bagian pertama itu punya bentuk yang berbeda: Bentuk yang pertama, di ay. 9 yang berbentuk kalimat perintah: “Tinggallah di dalam kasih-Ku itu!” Bentuk yang kedua, di ay. 10 “Kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku” mempunyai nuansa masa yang akan datang (future), yaitu akibat dari sesuatu. Uniknya pada dua bagian ini mengapit suatu frase yaitu “Jikalah kamu menuruti perintah-Ku.” Jadi bagaimana kita bisa tinggal di dalam kasih Tuhan? Satu-satunya cara adalah dengan jalan ketaatan kepada Tuhan.
Saudara, Tuhan buatkan kita pagar-pagar ketaatan sehingga kita akan tetap tinggal di dalam rumah yang melimpah dengan Kasih Tuhan (Providensi Tuhan). Saudara, kalau kita punya anak kecil mungkin kita akan berikan aturan-aturan tertentu kepada anak-anak kita, karena mereka ga ngerti. Seperti: Kamu ga boleh main listrik ya, nanti kesetrum; terus kamu ga boleh main dekat tangga nanti jatuh; Kamu ga boleh ke dapur ya. Mengapa kita kasi aturan seperti itu? Karena kita sayang mereka bukan? Dan kita ingin mereka tinggal terus bersama kita. Atau Saudara, ketika misal anak Saudara sudah mulai remaja, dan anak kita mulai belajar merokok, atau melihat pornografi. Kalau Saudara, sayang dengan anak Saudara, apa Saudara tidak berikan pagar-pagar buat anak kita? Atau malah uda ngerokok jangan ya, jangan sebatang, sebungkus kalau bisa. Pornografi gpp nonton aja itu sehat koq.
Saudara, kenapa hanya satu-satunya jalan ketaatan kepada Tuhan untuk dapat tinggal di dalam kasih Tuhan? Pertama, karena kita seperti anak-anak, banyak hal kita begitu terbatas. Kita hanya melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan sudah melihat dalam masa kekekalan. Tuhan lebih tahu. Kedua, Karena Tuhan Yesus sudah pernah mengalaminya. Saudara, Tuhan Yesus selalu memerintahkan sesuatu untuk kita lakukan yang sudah pernah Ia lakukan. “Seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yoh. 15:10b). Ketiga, karena dengan ketaatan, Tuhan memberikan sukacita hidup yang sejati (inilah yang akan menjadi poin yang kedua tentang alasan mengapa kita dapat menikmati hidup penuh ketaatan kepada Tuhan).
Philip Yancey pun melihat bahwa ketaatan kepada Tuhan sebagai cara Tuhan mengasihi umatNya, di dalam bukunya “Anugrah yang hilang” hal 77-78 mengatakan “Setiap kali saya mengunjungi dokter saya untuk memeriksakan kesehatan saya, ia mengeluarkan satu daftar berisi berbagai pertanyaan yang dalam konteks lain mana pun akan tampak ikut campur. Apakah saya minum alkohol? Seberapa banyak? Bagaimana dengan kopi? Apakah saya merokok? Memakai obat-obatan? Apakah saya aktif secara seksual? Apakah saya berolahraga secara teratur? Saya tidak keberatan ia menyelidiki kehidupan pribadi saya, karena pada dasarnya saya tahu kami memiliki minat yang sama: kesehatan saya. Ketika saya pulih dari suatu luka, dokter saya bahkan makin seperti bos. ‘Saya tidak ingin kau jogging atau bermain golf selama sebulan,’ katanya pada saya setelah operasi kaki dan lutut saya. ‘Apa pun yang kau lakukan, jangan menyetir!’ perintahnya sewaktu saya mengenakan penyangga fraktur leher. Saya rela menerima nasihatnya karena saya tahu ia meresepkan yang terbaik bagi saya, bukan hanya merampas kesenangan saya. Pemikiran orang Kristen tentang dosa yang seringkali disalahpahami membuat banyak orang tidak nyaman. Memang, itu membangun suatu garis yang jelas tentang pertanggungjawaban—tetapi kepada Allah yang mengasihi saya dan memerhatikan kepentingan saya. Saya dulu berpikir tentang Allah sebagai polisi alam semesta yang menjalankan peraturan yang sewenang-wenang daripada sebagai dokter yang menginginkan saya berkembang pesat.”

#2. Ketaatan kepada Tuhan membawa kita kepada Sukacita Hidup yang sejati. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” (ay. 11). Tuhan menyatakan tujuan dari apa yang sudah Ia katakan “Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya...” Termasuk di dalamnya ketaatan kepada Tuhan. Kalau boleh penulis paraphrase: “Ketaatanmu kepada-Ku supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Mengapa Tuhan perlu berkata adanya tambahan sukacita –Ku? Tuhan berkata sukacita –Ku, berarti ada sukacita yang lain di luar Tuhan. Menikmati dunia penuh sukacita bukan? Namun Tuhan bilang hanya dengan sukacita –Ku, sukacita hidup kita dapat menjadi penuh. Mengapa? Karena selain sukacita dari Tuhan Yesus tidak akan memenuhkan hidup kita. Misal: dengan pornografi, perselingkuhan, minum-minuman keras, hidup egois, pelayanan untuk kemuliaan diri, dan segala bentuk dosa lainnya (bagi penulis dosa adalah segala sesuatu, baik aktivitas apapun yang tidak dilakukan untuk Tuhan dan kemuliaanNya) memang akan mendatangkan kenikmatan, tapi itu adalah kenikmatan semu, yang akan menarik orang-orang untuk tidak pernah puas, dan terus menambah dosisnya. Ignatius Loyola mendefinisikan dosa sebagai ketidakmauan untuk percaya bahwa Allah menginginkan kebahagiaan dan kepuasan saya. Jika kita mencintai hal-hal jasmaniah—seks, alkohol, makanan, uang, kesuksesan, kekuasaan—tidak dalam cara seperti yang Allah maksudkan, kita menjadi budak mereka, seperti yang bisa dibuktikan oleh pecandu mana pun.
Sukacita karena ketaatan kepada Tuhan, jauh berbeda dari apa yang dunia berikan, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” (Yoh. 14:27). Sukacita dari Tuhan tidak dapat dirampas oleh siapapun, Roh Kudus tinggal di hati kita. “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.” Yoh. 16:22. Bahkan penindasan, kesusahan hidup tidak dapat merampas sukacita dari Tuhan. (Lih. Hidup Paulus di penjara, tapi masih bisa bernyanyi dan Murid-murid Yesus disiksa tetapi masih tetap bertahan dan bersukacita).
Terkadang ada pemikiran: hidup di dalam Tuhan begitu terikat, “Jadi orang Kristen ga bole ini dan ga bole itu.” Dan hidup jadi orang dunia lebih bebas. Namun kalau kita kembali berpikir, siapa yang lebih bebas? Orang Kristen atau orang Dunia. Penulis pikir orang dunia, karena mereka terikat sama dosa. Ga bisa keluar, tapi kalau kita anak Tuhan kita masih punya pilihan untuk taat sama Tuhan atau berdosa.
Ketika kita taat sama Tuhan, kita hidup dalam kesukacitaan dan damai sejahtera yang sejati.
Karena Ketaatan Umat Tuhan merupakan Cara Tuhan Memelihara UmatNya
Jadi Saudara, sadarilah PAGAR ketaatan yang dibuat oleh Tuhan berguna supaya kita tetap tinggal di dalam RUMAH yang melimpah dengan kasih, sukacita, dan damai sejahtera. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Yoh. 10:10b
Banyak orang yang punya usaha sering berkata: “Ga bisa usaha kalau masih tetap taat sama Tuhan 100%” pertanyaannya usaha seperti apa yang ga bisa? Usaha yang kita inginkan bukan? Yang makin besar, dan menghalalkan segala cara itu. Jangan pikir setelah kita memiliki usaha itu kita akan makin bersukacita, belum tentu, mungkin malahan yang muncul hati yang kuatir, tidak tenang, perpecahan. Kalau Tuhan, belum buka jalan, jangan dulu kita memaksakan untuk tidak taat kepada Tuhan.
Saat ini penulis juga melihat banyak pernikahan di luar Tuhan, atau pernikahan orang yang Kristen-kristenan berakhir tragis, karena memang tidak sungguh-sungguh taat kepada Tuhan. Kalau pernikahan Saudara, hidup keluarga Saudara mau benar-benar hidup, taat kepada Tuhan. Tuhan tidak berkata ketaatan kepada-Nya adalah sebuah keharusan, tetapi Tuhan pakai pengandaian. “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku….” (Yoh. 15:10a). Pilihan sekarang ada di tangan kita, kita mau taat dan mendapat sukacita Tuhan, sukacita yang sejati. Atau tidak taat, akan menikmati sukacita hidup ini yang membawa pada penyesalan, dan kehampaan.
Sebagai penutup penulis mengutip pernyataan Eugene Peterson yang mengatakan bahwa “Makna dasar keselamatan dalam bahasa Ibrani adalah melebarkan, melapangkan, memperluas. Itu membawa rasa kelepasan dari suatu keberadaan yang tertekan, terkungkung, dan terkekang.” Allah ingin membebaskan kita, membuat kita bisa hidup terbuka dan mencintai kehidupan bersama Tuhan dan sesama kita.
“Aku akan mengikuti pertunjuk perintah-perintahMu,
sebab Engkau melapangkan hatiku,” tulis pemazmur.”

Mazmur 119:32

Fernandes
Seminari Alkitab Asia Tenggara

6 comments

Write comments
Jan 18, 2017, 7:41:00 AM delete

Ada satu lagi yang hilang pak....

Anak Lembu-nya..Karna buat sate...:)hehehe

Nice Share Pak, Thanks GBU

Reply
avatar

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^