Membuat Resolusi (lagi) - Rethinking Resolution in 2016

11:05 AM 6 Comments A+ a-

Setiap orang pada umumnya menginginkan sesuatu yang lebih baik ketika tiba di penghujung tahun ataupun memulai awal tahun. Demikian pula ketika tiba di akhir tahun 2015 atau awal tahun 2016, orang-orang mulai merefleksikan apa saya yang sudah terjadi atau pun pencapaian selama 2015 dan apa saja yang akan dilakukan di tahun 2016. Fenomena membuat resolusi menjadi hal yang sering ditemukan, ataupun ditanyakan oleh teman-teman, pasangan, kerabat ataupun rekan kerja.


Beberapa orang menganggap penting membuat resolusi karena memberikan arah dan motivasi selama tahun 2016. Sebagian lagi takut membuat resolusi karena beranggapan tidak ada yang bisa bagaimana tahun 2016 akan berjalan. Ada juga orang-orang yang menganggap bahwa resolusi tidak perlu. Hal ini bisa karena mereka punya prinsip hidup itu mengalir saja ataupun karena trauma gagalnya resolusi-resolusi yang pernah dicapai sebelumnya. Lalu mana yang lebih baik membuat atau tidak membuat resolusi?

Sebuah data statistik dari  Journal of Clinical Psychology statistic brain research institute University of Scranton menuliskan  “People who explicitly make resolutions are 10 times more likely to attain their goals than people who don't explicitly make resolutions”. Permasalahannya ada fakta lain yang dari jurnal yang sama menyebutkan bahwa hanya 8-10% orang yang berhasil mencapai resolusi tahunannya, bahkan 35% gagal dan menyerah di bulan pertama! Penelitian ini memang mengambil sampel di US di mana hanya sekitar 45% orang US yang membuat resolusi tiap tahunnya, itu berarti hanya 4 – 4,5% penduduk US yang berhasil mencapai resolusi tiap tahunnya. Ternyata angka orang-orang yang mencapai resolusi kecil sekali sehingga berkecil hatikah kita dan mulai berpikir bahwa resolusi itu tidak perlu dibuat?

Sebelum kita mencoret resolusi yang kita tulis atau memencet tombol delete pada file “resolusi 2016.docx” ada baiknya kita memahami faktor apa yang menyebabkan 4 – 4,5% penduduk US berhasil dalam mencapai resolusi akhir tahun. Dengan kata lain kita coba memahami keberhasilan membuat resolusi dari hal-hal apa yang membuat resolusi tahunan menjadi gagal.

Masalah #1: Resolusi yang tidak realistis dan terlalu sulit dicapai
Benjamin Gardner, seorang ahli dalam Behavior Change di King College London mengatakan, “I think the main reason why new year’s resolutions fail is people being unrealistic. Alasan orang membuat resolusi yang tidak realistis beragam. Michael Kerr, pembicara bisnis internasional dan penulis dari buku yang berjudul The Humor Advantage mengatakan bahwa alasannya mulai dari terlalu optimis, tekanan sosial sekitar, terjadinya kejadian hidup yang penting- seperti perceraian atau kehilangan pekerjaan – yang memicu keinginan melampaui batas. Hal ini coba menjelaskan seringkali seseorang membuat resolusi  bukan karena motivasi yang benar.
Orang dapat membuat resolusi tahun baru hanya karena membuat resolusi adalah hal popular yang juga dilakukan oleh orang lain, apalagi ini adalah tahun baru, seperti ada sebuah ‘kewajiban’ untuk mengatakan bahwa perilaku mereka akan berubah atau bisa juga karena ingin penerimaan sosial dari orang lain. Tetapi ketika orang-orang dengan motivasi seperti ini menghadapi realita tentang apa yang mereka lakukan, mereka dapat menyerah karena motivasi tidak datang dari dalam diri mereka. Studi psikologi mengajarkan bahwa orang mempunyai kemungkinan sukses yang tinggi dalam merubah perilaku mereka ketika  termotivasi secara internal daripada dorongan eksternal. Psikolog Harvard merekomendasikan dalam membuat resolusi orang harus memberikan nilai lebih pada proses daripada hasil yang dicapai. Contohnya, belajar lebih menyukai transformasi hidup sehat daripada terobsesi dengan angka pada timbangan.

Masalah #2: Resolusi yang terlalu banyak
Keberhasilan menjalankan resolusi tidak hanya karena motivasi yang benar tetapi harus siap dan mampu  secara fisik dan psikologi. Hal ini berbicara tentang tekad atau kemauan yang keras. Tekad terkait dengan energi  yang kita punyai untuk menjalankan resolusi tersebut. Sama hal nya dengan otot, kemampuan sebuah tekad dapat dilatih ataupun dapat habis/lelah  jika digunakan secara berlebihan.

Sangat sulit untuk mempertahankan tekad/motivasi yang tetap hal ini dikenal dengan fenomena decision fatigue. Istilah ini dikenalkan oleh psikologis dari Florida State University, Roy F. Baumeisterin.  Secara umum decision fatigue berarti orang kehilangan motivasi/tekad dalam mengambil keputusan seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini karena energi yang dimiliki terbatas dan tidak dapat mempertahankan motivasi yang dimiliki sama seperti saat pertama kali.

Decision fatigue dapat terjadi juga ketika membuat resolusi yang banyak sekaligus. Hal ini dapat merusak diri sendiri karena energi yang digunakan dalam satu waktu. Tekad dan energi kita menjadi terbagi-bagi untuk melakukan itu semua. Baumeisterin menyarankan untuk melakukan resolusi secara sekuensial atau berurutan dan mulailah dari yang paling mudah. Hal ini karena tekad akan terlatih sedikit demi sedikit untuk bertumbuh dan tersedia semakin kuat. Michael Kerr menambahkan bahwa strategi resolusi yang lebih sukses adalah mencoba membuat perubahan yang kecil dalam setahun. Dia juga memberi saran untuk fokus kepada satu atau dua prioritas daripada membuat daftar list resolusi yang panjang. Andaikata  hanya membuat sebuah resolusi pun jangan membuat target terlalu tinggi untuk dicapai. Psikiater Dr. Howard Forman menyimpulkannya dengan sebuah kalimat, “Aim for small, measurable and achievable goals”

Masalah #3: Tidak adanya perencanaan yang matang terhadap resolusi
Kita bisa mempunyai tekad yang besar dengan sebuah resolusi yang simple/ sederhana, namun itu pun belum cukup menjamin keberhasilan resolusi yang dibuat. Kita harus melihat kesempatan yang ada untuk menjalankan resolusi tersebut beserta kemungkinan hambatan-hambatan yang akan muncul.

Peter Gollwitzer, Profesor psikologi dari Universitas New York mengatakan, “Not only do your goals have to be desirable, achievable and have a specific outcome, you also need to think about the when, where and how”. Hal ini memberikan kita arahan untuk mengidentifikasikan kesempatan/peluang yang baik untuk memulai resolusi dan merencanakan tindakan yang diperlukan ketika hambatan-hambatan muncul. Gollwitzer menemukan bahwa orang mempunyai kemungkinan 2 sampai 3 kali lebih berhasil mencapai resolusi mereka ketika menggunakan “if – then plan”. Jika kita lihat hubungan hal ini dengan decision fatigue pada Masalah #2 maka saat kita sudah membuat perencanaan yang matang dari kesempatan dan hambatan yang mungkin muncul maka energi yang diperlukan untuk membuat pilihan atau keputusan akan lebih efektif dan bersifat autopilot. Hal ini lah yang dikenal dengan nama habit atau kebiasaan.

Masalah #4: Tidak mengembangkan resolusi menjadi sebuah Habit atau kebiasaan
Kebiasaan datang dari melakukan perilaku yang berulang. Ada penelitian yang menyebutkan 21 hari, 40 hari, bahkan 66 hari untuk membentuk sebuah kebiasaan yang baru. Studi psikologis menunjukan bahwa beberapa perilaku lebih mudah menjadi kebiasaan daripada perilaku lainnya. Sebagai contoh,  tindakan kecil seperti minum air putih lebih banyak setelah makan pagi akan lebih mudah dan cepat menjadi kebiasaan dari pada perilaku yang lebih rumit seperti melakukan sit up 50x per hari. Benjamin Gardner melalui studi ini mengatakan bahwa sebaiknya orang mencoba mengambil tindakan kecil, membangun kebiasaan hingga tujuan perubahan tercapai. Hasil dari perubahan yang terlihat akan menumbuhkan kepercayaan dan tekad untuk melakukan hal-hal yang lebih kompleks.

Selain membangun kebiasaan yang positif, kita juga dapat mengeliminasi kebiasaan buruk. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mencari hal baik untuk menggantikan kebiasaan buruk tersebut.  Contohnya jika kita mempunyai kebiasaan merokok, maka kita harus dapat memberikan sugesti pada diri kita, “saya tidak akan merokok apapun yang terjadi dan seberapa besar pun keinginan saya”. Jika tiba-tiba kita ditawari rokok atau melihat kesempatan untuk merokok maka kita harus terus berjuan melawan keinginan untuk merokok hingga tekad atau motivasi ingin merokok menjadi lemah.

Cara lain yang dianjurkan dalam studi psikologi adalah menghindari kemungkinan-kemungkinan untuk mendatangkan cobaan, atau yang oleh  Molly Crockett dari University Oxford disebut sebagai “precommitment”. Istilah ini bisa dideskripsikan sebagai menghilangkan pencobaan/godaan sejak awal sehingga diri kita tidak mempunyai akses ke dalam nya. Menurut Crockett area otak yang berfungsi untuk memikirkan masa depan akan aktif dan berinterkasi dengan area otak yang mengatur pengendalian diri saat precommitment. Contoh dalam metode ini adalah, jika kita ingin mengurangi berat badan maka lebih baik menghindari membeli makanan yang tidak sehat sejak awal, daripada mempunyainya didapur/kulkas dan kita berusaha untuk melawan godaan memakannya.

Demikian 4 Masalah yang dapat kita pikirkan dan pelajari dari kegagalan dan keberhasilan 4% orang US menjalankan resolusi mereka. Jadi apakah anda masih ingin membuat resolusi? Minimal kalau kita menjawab Ya,  kita dapat membuat resolusi yang sederhana dan fokus kepada  perilaku spesifik yang dapat kita kembangkan menjadi kebiasaan baru dengan strategi dan perencanaan yang matang.

Pada artikel yang lain, BBDC akan membahas apa aja sih resolusi popular 2016 di beberapa negara? Dan apa saja resolusi tim BBDC? Serta bagaimana tips sederhana menuliskan resolusi? Check this out yah J

6 comments

Write comments
Apr 18, 2016, 6:43:00 PM delete This comment has been removed by a blog administrator.
avatar

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^