Mendefinisikan Ulang Besar Kecil - Pilihan Kehidupan

7:21 PM 5 Comments A+ a-

“Papa, jangan lupa ya pesanan mama! Susu bubuk yang si kecil biasa minum, yang kotaknya paling besar, ya! Satu lagi serbuk pembersih baju, beli yang paling kecil saja” , pesan si mama menitip beberapa barang belanjaan rumah tangganya sehari-hari, sebelum papa pergi kerja.

Mbak, saya mau beli susu bubuk untuk anak saya yang paling besar, ukurannya yang kecil. Sepertinya sudah, itu saja.”, putus si papa yang lupa apa saja titipan belanjaan istrinya di rumah, tanpa menelpon kembali menanyakan, karena takut dimarahi.

“Kakak, kecilkan suara radionya! Adikmu sedang mengerjakan tugasnya”, perintah si mama kepada anak tertuanya.

“Adik, makan donatnya jangan sekaligus besar-besar dong, ah! Mulutnya khan masih kecil, tidak muat langsung sekali gigit”, tegur si papa yang pulang membawa oleh-oleh dan dihadiahi geram dari istrinya karena salah beli belanjaan.

Itu adalah salah satu potongan gambar dari sekian banyak pilihan yang kita buat hampir setiap hari dalam kehidupan kita. Besar, kecil. Panas, dingin. Tinggi, pendek. Putih, hitam. Dan setiap hari, mulai dari kita membuka mata, kita sudah harus mulai membuat pilihan-pilihan tersebut. Itu baru antara 2 pilihan, bagaimana jika ditambah lagi dengan kehadiran si sedang? Si semampai? Si abu-abu? Apabila kita berhasil dibingungkan saat memilih warna dasi atau padanan rok yang senada, maka sang waktu akan semakin tidak berpihak pada sisi kita.

Setiap orang hadir dengan pilihannya sendiri-sendiri. Masing-masing menjatuhkan pilihannya berdasarkan berbagai macam pertimbangan: kendaraan minibus karena bisa muat penumpang beserta tetek bengek lebih banyak daripada mobil sedan, kopi atau teh atau coklat dan panas atau dingin yang menyebabkan antrian panjang di depan kasir kedai kopi, berseragam putih atau berseragam hitam atau berseragam batik atau ...


Pilihan, dibuat setiap hari setiap saat untuk mendatangkan yang terbaik bagi yang membuatnya. Seperti saat kita berkendara di jalan, apakah berbelok kiri disini atau tetap lurus ke depan? Sabar menanti antrian yang luar biasa panjang atau berputar balik menuju jalan alternatif lain yang tadi sudah dilewati. Semuanya itu diambil dan dilakukan guna mengantar / menibakan kita sampai di tujuan tepat waktu, tidak terlambat atau bahkan lebih cepat. Dari sini kita melihat, pilihan yang kita ambil hari ini menentukan kecepatan tiba kita pada tujuan yang kita inginkan. Berbelok, berputar balik, zig zag, menyerobot, kita kerahkan semua keahlian bermanuver yang kita punya, mungkin dengan sedikit mengurangi keselamatan berkendara, hak-hak pengguna jalan lain dan sebagainya.

Pilihan, dipercaya memberikan kepuasan bagi yang menjalaninya bahkan menjadi ukuran kebahagiaan bagi seseorang. Bagaikan sepasang kekasih, yang hendak memulai hidup baru dan pergi memilih bentuk kartu undangan. Mereka akan memilih desain yang termanis untuk dibagikan kepada tamu-tamu pilihan mereka di hari bahagia nanti. Mereka akan mencari perancang busana pengantin yang terbaik, yang akan menghadirkan mahakaryanya yang paling cantik bagi mereka berdua. Itu belum memasukkan pilihan makanan, tempat pernikahan, bulan madu dan lain-lain dan sebagainya. Semuanya adalah demi merengguk kebahagiaan, demi langgengnya sebuah hubungan, demi reputasi dan mungkin juga gengsi.

Pilihan, mengaburkan fungsi dan prioritas serta mengabaikan pengorbanan yang mungkin harus ditanggung. Manakah yang sebaiknya kubeli: komputer jinjing berukuran besar dengan harga minimal, yang akan membuat pundakku pegal-pegal? Atau, komputer yang ringan nan tipis dengan harga maksimal, yang akan membuat beberapa rekan kerjaku mengagumi yang kumiliki?

“Aku suka mobil besar! Akan kutambahkan ban dan velg yang berukuran lebih besar juga, serta perangkat musik yang bersuara dahsyat agar semua orang tahu saat aku melewati jalanan-jalanan ini”, kata si A.

“Aku tidak pernah absen jika ada potongan harga besar-besaran! Aku akan mendatangi pusat perbelanjaan itu manapun juga, karena ini adalah kesempatanku mendapatkan lebih banyak barang dari hari-hari biasanya”, kata si B.

“Aku ingin ruangan yang lebih besar lagi dari ini! Agar pasanganku bias mengundang lebih banyak lagi kerabat dan sanak saudaranya, guna menghadiri hari bahagia kami. Kami ingin mereka menyaksikan perayaan dimulainya tapak hidup baru kami”, kata si C.

Maafkan saya, bila saya memakaikan kacamata perspektif yang terlalu sempit ini di wajah Anda, melalui kalimat-kalimat yang baru saja saya karangkan dan contohkan. Namun, jika kita memang ingin mendefinisikan kembali artinya besar dan kecil tersebut, maka kita perlu melihat bagaimana sebenarnya manusia melihat, manakah dari antara ini yang besar dan manakah dari antara itu yang kecil?

Saya tidak perlu merasa iri atau terkagum bila Anda memiliki tunggangan yang paling besar sekalipun di dunia ini. Saya hanya terkagum, bila di balik kabin yang sangat nyaman itu, Anda masih bisa melihat kesusahan orang-orang lain kemudian melakukan daya upaya yang Anda bisa lakukan untuk membantu mereka. Saya rasa saya pun belum melakukan apa yang saya tulis sendiri.

Saya tidak perlu merasa takjub dengan seberapa besar kantong belanjaan yang Anda jinjing dan boyong sekeluarnya Anda dari pusat perbelanjaan. Itu semua hanyalah penghias fisik kita yang besaran umumnya tidak lebih tinggi dari 3 meter. Sebaliknya, ruang jiwa kita yang tidak memiliki batas nyaris kosong. Tidak lebih bak kacang rebus, yang bertempurung besar namun hanya kecil isinya setelah dibuka.

Saya tidak kagum dengan kemegahan sebuah ruang pernikahan. Saya menyukai karya interior yang mewah, namun kekaguman saya lebih terbayar karena melihat pasangan yang berkumpul kembali mengucapkan bahkan memperbaharui janji pernikahan mereka setelah 10-15-20 tahun mengarungi hidup bersama. Saya yakin pasangan Anda bukan seperti peralatan elektronik yang memiliki masa uzurnya, bukan? Setelah sekian lama digunakan, maka harus mulai dipikirkan mencari penggantinya / digantikan dengan yang lebih baru lagi. Ya, walaupun kadang-kadang suka membuat kesal, pelupa, kikuk dan lain sebagainya seperti contoh percakapan keluarga di awal tadi.

Sesuatu yang besar itu tidak datang dalam sosok yang besar. Sesuatu yang besar datang dari melakukan hal-hal yang kecil: mengurus menu makanan, datang lebih pagi, mematikan lampu kamar mandi yang tidak terpakai dan lain-lain sebagainya, yang kita pikir tidak penting. Namun, itulah yang dilakukan oleh Alex Ferguson selama 27 tahunnya bersama Manchester United.

Fergie adalah salah satu pelatih terlama yang pernah berkiprah di Liga Inggris. Pernah menangani dua klub sebelumnya dan dipecat tidak membuat Fergie mendaratkan kakinya di kota Manchester, yang kemudian menjadi pelabuhan terakhirnya. Pelabuhan, dimana ia menyabet begitu banyak gelar dan penghargaan atas apa yang telah ia lakukan untuk dunia sepakbola Inggris. Selain rentetan prestasi dan pengabdiannya, Fergie adalah sedikit dari pelatih yang mendapat sebutan manager atas tim yang mereka bina. Seperti layaknya Arsene Wenger, pesaingnya dari London, yang juga mendapat sebutan serupa, mereka memang bertanggungjawab mengurusi hal-hal kecil yang mungkin tidak ada hubungannya dengan teknis sepakbola sekalipun. Kecil, bisa Anda artikan sepele, tidak ada hubungannya, bahkan tidak nyambung sama sekali.

Sebuah koran lokal di Jakarta memuat tulisan berisi pengalaman seseorang yang pernah berkunjung ke Old Trafford, markas dari klub Setan Merah tersebut. Dengan tegas, Fergie mengeluarkan peraturan tentang larangan pengambilan gambar / berfoto dengan kamera di lahan parkir stadion oleh para pengunjung. Para turis dipastikan akan merasa sangat tidak nyaman dengan kebijakan kakek bercucu 11 ini, namun semuanya ia lakukan atas pertimbangan dan kebaikan bagi klub yang ia tangani, apapun alasannya.

Akan terlalu sempit jika kita menilai tindakannya ini tidak dilakukan oleh pelatih-pelatih Liga Inggris lain, namun rasanya mungkin saja jika kita melihat pesaing-pesaing yang Fergie hadapi. Banyak klub-klub Inggris yang menjadi kaya mendadak, memiliki dana yang sepertinya tidak terbatas untuk membeli siapapun yang mereka anggap handal untuk bisa menyapu semua gelar kejuaraan. Membina 11 orang bintang lapangan hijau pastinya tidak mudah, sehingga dibutuhkan nama-nama pelatih yang dianggap kompeten untuk meramu resep taktik paling jitu. Jika pelatih tersebut gagal, tinggal dipecat dan calon pelatih baru dipersiapkan untuk segera menduduki kursi panas klub tersebut. Sepertinya tidak akan ada waktu lagi bukan untuk mempersiapkan menu makanan pemain, apalagi mengurusi lahan parkir?

Detil, cermat, terperinci, penuh aturan: inilah salah satu unsur penting yang menjadikan Manchester United sebagai kekuatan raksasa yang disegani lawan-lawannya di tingkat dunia. Memiliki barisan pertahanan yang hidup? Ya, tapi disiplin yang tinggi maka tidak ada gunanya. Memiliki gelandang-gelandang petarung yang hebat? Tentu, namun tanpa karakter maka lini tengah bisa berantakan. Memiliki pencetak gol paling tajam? Tidak diragukan lagi, tetapi ambisi membunuh segalanya.

Di tengah limpahnya tawaran gaji yang menggiurkan, bonus yang besar dan perangsang-perangsang lain yang bisa membuat orang berpaling, Fergie adalah model contoh yang baik bagi pemain-pemain muda maupun bintang saat ini. Mereka yang umumnya mudah berpaling demi tawaran uang, demi gengsi nama besar, gelar prestasi dan lain sebagainya, adalah mereka yang pandangannya telah diselimuti kabut samar. Kesetiaan dapat ditukarkan dengan mudahnya dengan bayaran, sulit membedakan apakah ini kilau piala ataukah ini kilau emas.

Kini telah jelas, bahwa sesungguhnya kehormatan itu datangnya dari kesetiaan melayani; seseorang yang melihat dari tempat yang lebih tinggi, untuk kemudian turun ke bawah membereskan banyak hal yang tidak benar.

Bahwa sesungguhnya kebesaran datang dari hati yang tersentuh dan tangan yang terbuka, bukan dari isi kantong celana.

Bahwa sesungguhnya kekayaan itu bukan diukur dari berapa banyak yang kita miliki, justru dari apa yang telah kita berikan untuk orang lain.

2012 – 2013 adalah musim terakhir bagi Fergie, ditutup dengan sebuah kecupan manis di piala juara Liga Inggris. Ia tetap akan menemani anak-anak asuhnya, hanya saja dari balik kursi kepengurusan. Tugas utamanya kini adalah menemani istrinya yang telah ditinggalkan oleh sahabatnya untuk selama-lamanya.

Jika Anda ingin mulai menjadi besar, jika Anda telah siap menjadi besar, Anda bisa memulainya dengan sangat mudah sekali: mengingat daftar belanjaan pasangan Anda dan jangan salah mengambil ukuran kotaknya.

Di Balik Kekuatan Besar, Ada Tanggung Jawab Yang Besar.
--Ben Parker

(Ditulis oleh Yosua R. Hutapea - @HutapeaJosh)
Direktur PT. Grafika Laras Dinamik / Pemilik Printees Custom T-Shirt

5 comments

Write comments

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^