Review : Life of PI - The Journey of Life

9:00 AM 6 Comments A+ a-


Salah satu Film yang menarik ditonton di penghujung tahun 2012 adalah Life Of Pi: The Journey of Life. Film yang berdurasi sekitar 2 jam ini menyajikan kisah yang menarik, teknologi gambar yang tajam dan nilai-nilai  yang bagus. Bahkan salah satu kritikus film mengatakan “Jika Anda hanya menonton salah satu film lagi untuk sisa keberadaan Anda di Bumi,maka  "Life of Pi" akan menjadi pilihan yang baik.” Film ini secara keseluruhan memiliki banyak hal yang ditawarkan sehingga membuat saya tidak bisa untuk tidak merekomendasikan kepada teman-teman untuk menontonnya.

Film Life of Pi diangkat berdasarkan novel populer yang berjudul serupa yang dikarang oleh Yann Martel (2001). Film ini berkisah tentang seorang tokoh yang bernama, Piscine Molitor Patel (diperankan oleh pendatang baru Suraj Sharma) seorang India dengan nama Perancis. Dia adalah seorang remaja India dengan perspektif yang tidak biasa karena dalam perjalanan hidupnya ia memiliki tiga spiritualitas (dia mengikuti Hindu, Kristen, dan Islam). Ayahnya seorang atheis yang mempunyai bisnis kebun binatang sedangkan ibunya adalah ahli botani. Nama Piscine sendiri berasal dari bahasa Perancis yang berarti ‘Kolam’ tetapi uniknya pengucapan nama ini  mirip dengan "kencing" – dalam bahasa India. Karena tidak tahan dengan olok-olokan teman-temannya. Piscine akhirnya mengambil nama pendek "Pi” dengan Argumen Matematika.

Film ini menggambarkan kehidupan keluarga yang hangat. Di mana Pi  menikmati kehidupan bersama orang tuanya dan kakaknya, Ravi, dan diakhiri dengan rasa jatuh cinta pertama kali pada seorang gadis. Diceritakan juga bagaimana perjalanan spiritualitas Pi yang di film ini mengaku sebagai Khatolik Hindu dan pandangannya tentang agama Hindu, Kristen, dan Islam. Sebuah argumentasi dan pandangan yang menarik untuk disimak tentang iman dituangkan dalam film ini.

Masa sulit  terjadi ketika ayahnya untuk mengumumkan bahwa mereka akan pindah ke Kanada, di mana ia akan menjual semua binatang. Akhirnya Pi dan Keluarganya meninggalkan India dengan sebuah Kapal kontainer Jepang bersama semua hewan piaraan di kebun binatang milik ayahnya. Tiba-tiba dimulai dengan badai malam yang mengerikan dan kapal pun tenggelam. Pi selamat dalam sebuah sekoci namun naas orang tua nya serta kakaknya, Ravi, meninggal dalam kapal. Dalam terjangan badai itu yang selamat dalam sekoci adalah Pi bersama 5 ekor hewan. Mereka adalah seekor zebra terluka, hyena gila, seekor orangutan masam, tikus, dan bersembunyi bawah terpal - harimau besar bernama Richarad  Parker.

Kelaparan pun terjadi mengakibatkan hukum rimba berlaku. Hyena gila mulai memangsa Zebra dan Orang Utan. Ketika sang Hyena mulai menggila dan mau menyerang Pi, tiba-tiba Richard Parker, sang Harimau menerkam Hyena dan tikus. Pi pun hidup berdampingan dengan Richard Parker dalam sekoci. Agar aman Pi menciptakan rakit darurat agar terhindar dari sergapan sang harimau. Terlihat sedikit meyeramkan, aneh, dan lucu. Namun dengan cerdas film ini membawa logika rasional bagaimana cara bertahan hidup di tengah laut (bersama seekor harimau, tentunya).

Hari demi hari berlalu, persediaan makanan pun menipis. Hal lucu dan efek visual yang mengagumkan pun banyak terjadi. Pi yang seorang vegetarian pun menjadi karnivora, Richard Parker yang mabuk dan akhirnya takluk kepada Pi, ikan paus terbang, ubur-ubur yang bercahaya, dan sebuah badai besar yang menghantam sekoci ini.

Pada akhirnya Pi dan Richard Parker berhasil selamat setelah melewati perjalanan yang seru. Mereka pun berpisah di pantai. Dan ketika di investigasi oleh pihak Jepang sebagai pertanggungjawaban perusahaan, mereka tidak percaya akan kisah ajaib Pi ini, sehingga Pi mengarang cerita sadis tentang pembunuhan seorang koki di sekoci kepada para penumpang yang selamat dan ibunya. Sehingga memaksa pihak jepang percaya akan salah satu cerita dari Pi. Cerita yang mana? Nonton aja yah ceritanya hehe

Interisting Points

Salah satu yang membuat film ini menarik adalah gambar yang tajam dan indah. Ang Lee sang sutradara seperti membawa visualisasi ketajaman kehidupan nyata ke dalam layar. Teknologi 3D yang digunakan sangat memukau, Ang Lee sering menggunakan detail Makro untuk mengagetkan penontonnya dan panorama yang membuat mata berdecak kagum. Hampir seperti Avatar nya James Cameron. Teknologi 3D yang indah ini menjadi daya tarik pada pembukaan film festival ke 50 di New York pada tanggal 21 November. Saya sangat merekomendasikan menonton versi 3D nya karena akan membawa pengalaman kekaguman yang luar biasa.

Selain itu kedalaman alegori yang coba ditampilkan dan kisah pencarian Tuhan menjadi sangat menarik. Pi yang sudah dewasa seperti sedang ‘menawarkan’ ada atau tidak adanya Tuhan melalui ceritanya kepada seorang penulis novel Atheis. Film ini mencoba memberikan suatu wawasan kedalaman makna religi. Walau terkesan jenaka dan sedikit ngawur. Tetapi kepercayaan Pi akan adanya Tuhan yang setia dan menjaga dia dan Richard Parker itulah yang menguatkan dia. Bagaimana dialog2 yang memiliki makna dalam ditampilkan ketika Pi dan penulis novelis, contohnya:

Adult Pi Patel : Religion is a house with many rooms.
Writer            : But with no room for doubt?
Adult Pi Patel : Oh yes, room on every floor.

Cerita ini berusaha mengajak kita ke dalam makna lebih dalam untuk menginterpretasikan apa itu realitas. Bagi sang penulis novel Yann Martel, realitas adalah sebuah interpretasi. Kita membentuk realitas kita, dan kita melakukannya setiap waktu sepanjang hari. Kita tidak bebas dalam memilih fakta yang terjadi di kehidupan kita namun ada sebuah elemen kebebasan dalam bagaimana kita menginterpretasikan fakta-fakta itu. Nama Pi sendiri berasal dari bilangan irasional, sepertinya penulis bermaksud menggambarkan bahwa agama itu hampir terlihat irasional, bukan tidak masuk akal, tapi kadang di luar akal. Tetapi itu yang membuat pengertian kita tentang Tuhan menjadi make sense of things.

Perjalanan pencarian Tuhan yang dilakukan oleh penulis atheis ini. Ditutup dengan pertanyaan Pi kepada sang penulis tentang cerita mana yang ia lebih percaya; Cerita terlantar di tengah laut bersama Harimau mungkin terdengar lebih baik daripada cerita tanpa harimau dan brutal. Walau mungkin cerita bersama hariamau terdengar tidak masuk akal dibanding cerita brutal bersama koki pembunuh.  Menurut saya pesannya dari akhir cerita ini adalah mana yang kita pilih; cerita hidup kita bersama Tuhan walau terkesan kadang tidak masuk akal dan ajaib akan menjadi lebih baik daripada cerita hidup kita tanpa Tuhan. J

Hal terakhir adalah pesan film ini terkait dengan HOPE, pengalaman terkatung-katung di tengah laut selama 227 hari ini bersama seekor singa sudah seharusnya membuat frustasi apalagi Pi sudah kehilangan keluarganya di tengah badai. Hampir tidak ada alasan untuk berharap. Menariknya yang membuat Pi tetap bertahan hidup adalah bagaimana ia berjuang agar Richard Parker sang harimau dan dia sendiri tetap hidup. Dia menampung air hujan dan memancing ikan hanya untuk memberi makan dirinya dan sang harimau.

Film ini mengajar kita untuk Tetap Fokus pada tujuan walau itu hanya satu. Hal ini membuat Pi mempunyai Harapan dalam hidup. Selain itu Kepercayaannya pada Tuhan yang menjaga dalam badai dan masalah. Itulah hal yang menjadi kepercayaan Pi. Jadi mari kita terus berharap dalam segala keadaan J

Above all... it is important not to lose hope.” – Pi patel

(Ditulis oleh Nandastya - @nandasetyakk)


6 comments

Write comments

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^