Refleksi Natal dan Tutup Tahun 2012

9:29 AM 4 Comments A+ a-

Arti Harapan – Luk 2: 8 - 40

Menjelang tutup tahun biasanya kita melihat kembali perjalanan, kisah, momen, yang kita lalui sepanjang tahun. Kadang kala peristiwa itu menyenangkan kadang juga menyedihkan. Melihat kaleodoskop 2012, banyak hal yang terjadi baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Dari bencana alam sampai sampai kasus korupsi.

Berbagai bencana alam masih saja terjadi menimpa bangsa kita. Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada tahun 2012 ini Indonesia diguncang 730 bencana alam, dengan korban jiwa sebanyak 487 orang. Jumlah pengungsi mencapai 675.798 orang dengan, 33.847 rumah rusak yang terdiri dari 7.891 rumah rusak berat, 4.587 rusak sedang, dan 21.369 rusak ringan. Data ini mungkin saja bisa lebih dari yang tertulis.

Belum lagi ‘budaya’  korupsi yang sudah beranak cucu di bumi Indonesia. Berdasarkan data yang ada kasus korupsi di Indonesia sangat merugikan secara finansial. Dari pihak Polri membeberkan jumlah kasus korupsi yang ditanganinya sejak tahun 2011 hingga 2012 ini. Periode 2011, Polri mengaku telah menangani 766 kasus. Sementara itu, pada 2012, Korps Bhayangkara telah menangani sebanyak 885 kasus hingga bulan September. Dari 766 kasus pada 2011, sebanyak 423 di antaranya sudah masuk tahap penyidikan dan dinyatakan P21 atau berkas perkara lengkap."Kerugian negara akibat peristiwa ini sebanyak Rp 2,7 miliar untuk tahun 2011. Sedangkan tahun 2012 sebesar Rp 1,67 triliun," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Senin (15/10/2012).Hal ini diverifikasi oleh Indonesian Corruption Watch (ICW) yang memberi data kasus korupsi selama semester I tahun 2012. Hasilnya sebanyak 285 kasus korupsi di Indonesia sudah merugikan negara sebesar Rp 1,22 triliun. Ironisnya, sektor infrastruktur yang sedang didorong pemerintah malah menduduki posisi teratas tindak korupsinya.

Peristiwa demi peristiwa membuat kita pesimis terhadap nasib bangsa dan bersikap rada masa bodoh, selama hal ini tidak langsung mengganggu diri kita, sikap yang apatis. Jangankan melihat realita bangsa, kita sendiri mempunyai segudang masalah. Pernikahan yang hancur, kematian orang terkasih, perselingkuhan, kehilangan harta benda, dan masih banyak lagi. Terasa jiwa lelah dan emosi terkuras memikirkan semuanya. Penderitaan yang tak henti-henti menerjang. Walau ada kegembiraan juga tapi tak mungkin terlepas dari penderitaan.

Masa depan, tahun yang baru terkadang menjadi suatu yang kabur. Seakan-akan semuanya menjadi tidak jelas dan tak pasti. Mungkin para ekonom mengatakan pertumbuhan ekonomi tahun 2012 dapat mencapat 6,5%. Tetapi semuanya itu hanya predikisi sama seperti tahun 2008 ketika awal tahun semuanya mengira pertumbuhan ekonomi tahun 2008 baik, dan di akhir tahun terjadi krisis global di mana negara super power, Amerika Serikat, menderita  utang yang begitu besar. Chaos be a new normality. Di saat itu lah dunia mulai mencari apa yang namanya pengharapan. World need hope for better life.

Apa arti harapan? Apakah harapan sama dengan mimpi? Kalau saya boleh mendefinisikan harapan secara sederhana adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi atau nyata, dan kita percaya bahwa hal itu mungkin terjadi. Harapan juga bisa didefinisikan di mana kita mengalami situasi buruk dan punya kesempatan kecil untuk mengubahnya. Jelas sekali perbedaan antara harapan dan mimpi. Harapan adalah sesuatu yang sangat mungkin bisa dicapai walau sangat kecil kemungkinannya. Mungkin yang bisa kita pikirkan adalah frase 'bisa dicapai', terkadang frase ini bisa berbeda – beda tergantung siapa yang bicara dan keyakinannya. Contohnya, dulu orang bilang manusia ke bulan itu mustahil dan mimpi, tapi John F Kennedy melihatnya sebagai suatu visi, harapan. Marthin Luther King Jr, melihat sebuah harapan dan  bukan mimpi tentang bagaimana di Amerika Serikat, orang kulit hitam di akui keberadannya sama dengan orang kulit putih.

Lalu harapan apa yang dibutuhkan oleh dunia ini dan oleh kita semua? Harapan menuju dunia lebih baik  dalam segala hal. Manusia ingin hidupnya lebih sejahtera. Adanya perataan ekonomi antara negara berkembang dan negara maju. Kemakmuran bagi semua orang. Manusia juga ingin alam dan lingkungan menjadi lebih baik. Makanya kita dapat melihat saat ini banyak kampanye – kampanya go green di mana – mana. Manusia tidak ingin melihat perang. Dunia dalam keadaan damai. Manusia mempunyai pemahaman dan pemikiran yang sama. Tidak ada rasa mementingkan diri sendiri. Tidak ada perceraian dalam rumah tangga. Tidak ada orang yang mati gara – gara stress akan tekanan hidup. Wow... sepertinya itu hanya ada di TV atau ada di Surga. Saya yakin kebanyakan kita akan mengatakan hal itu tidak mungkin terjadi. Itu bukan harapan, itu mimpi.

Kita mungkin berkilah, yah janganlan memimpikan yang besar-besar, cukup harapkan yang biasa – biasa aja dan berhubungan dengan diri sendiri. Harapan bagi mahasiswa bisa berarti, lulus tepat waktu, dapat kerjaan yang gajinya besar, punya pasangan hidup yang cantik/ganteng + (kaya - tidak semua orang). Harapan bagi orang tua mungkin berarti anak-anaknya berhasil dan sukses, punya kehidupan yang lebih baik dan sejahtera sampa maut menjemput. Harapan bagi sepasang suami istri mungkin punya anak, pernikahan kembali dipulihkan, keluarga melayani Tuhan. Harapan bagi seorang pengemis dan orang miskin mungkin saja berarti bisa makan esok hari.

Seringkali, ketika manusia sudah mempunyai harapan  yang diidam-idamkan namun sejalan dengan waktu kita memiliki keinginan lagi. Manusia tidak pernah puas. Belum lagi kita melihat bahwa seringkali harapan – harapan tersebut bersifat egosentris. Padahal tiap manusia punya kepentingan yang berbeda, bagaimana mungkin dunia mempunyai harapan yang sama? Dunia tidak punya jawabannya. Tetapi Allah punya jawaban atas setiap kebutuhan manusia. Sebuah harapan sejati.

Harapan sejati muncul sebagai sebuah jawaban atas kebutuhan yang esensi. Lalu apakah kebutuhan manusia yang esensi itu? Yang terkadang sadar tidak sadar dibutuhkan manusia. Sebuah jawaban dapat  kita lihat pada kisah kelahiran Tuhan Yesus Kristus pada Injil Lukas. Dalam pembacaan ini kita akan melihat dua buah bagian yang menarik. Bagian pertama bercerita tentang gembala-gembala yang menjadi saksi kelahiran Tuhan Yesus. Sedangkan bagian kedua menceritakan tentang pengharapan yang dilihat dan tergenapi pada diri Simeon dan Hana.

Kalau kita melihat pada figur gembala, mereka mewakili figur orang – orang sederhana yang jelas berbeda dengan orang majus pada kisah lain. Mereka mungkin sama seperti orang Israel lainnya yang menunggu akan pengharapan datangnya mesias. Mereka tahu akan kebenaran tentang akan datangnya mesias. Tapi di lain sisi mereka juga tidak tahu kapan sang Mesias akan datang. Mereka tidak pernah menduga mesias datang pada jaman mereka, pada waktu malam itu. Israel saat itu menjadi daerah jajahan Romawi. Herodes menjadi raja di Israel sebagai boneka dari Kaisar Roma. Tekanan dari penjajah dan raja herodes yang psikopat membuat derita penduduk israel. Bagi mereka harapan datangnya mesias sama seperti raja yang mengembalikan israel pada masa pemerintahan Daud. Tetapi bagi sebagian besar orang yang sudah nyaman dalam keadaan ini, kehadiran mesias mungkin menjadi hal-hal yang dalam bahasa sehari-hari 'bodo amat, mau hadir yang ok mau hadir yang gak apa-apa'. Kenyamanan hidup menggantikan pengharapan besar akan kedatangan mesias. Entah apa yang ada di benak gembala – gembala tersebut. Tapi itu tidak menghalangi rencana dan kasih karunia Allah.

Malam itu para gembala mungkin terperanjat kaget, takut, takjub, bingung melihat suatu penglihatan supranatural. Tapi yang menghebohkan dan hebat bukan itu, melainkan pesan yang dibawa oleh malaikat.

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi
di antara manusia yang berkenan kepadaNya”

Inilah berita pengharapan itu, damai sejahtera di antara manusia, tetapi manusia yang seperti apa? Dilanjutkan manusia yang berkenan kepadaNya. Jika kita tidak mempunyai damai sejahtera saat ini, pertanyaannya apakah kita sudah menjadi manusia yang berkenan kepadaNya. Apakah damai sejahtera yang kita inginkan dicari di dalam atau di luar Allah? Berita kesukaan itu tidak membuat gembala  berhenti dan menjadikan hal itu sebagai suatu konsumsi  pribadi, tetapi mereka mengabarkan berita gembira ini dan memuji Allah (ay 20)

Arti harapan berikutnya dapat kita lihat pada kisah Simeon dan Hana.  Ayat 25 menceritakan siapa itu Simeon, ia orang benar dan saleh, Roh Kudus ada padanya dan sedang MENANTIKAN penghiburan bagi Israel. Ia punya suatu pengharapan. Hana, seorang nabiah, dan pendoa yang luar biasa (37) juga mengklarifikasikan pengharapn tersebut, “semua orang yang MENANTIKAN kelepasan untuk Yerusalem”. Penantian mereka jelas, suatu penghiburan dan kelepasan, keselamatan yang dari padaMu (30). apa maksudnya penghiburan dan keselamatan ayat 32 menegaskan sebagai terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu.

Beberapa hal yang dapat kita pelajari dai kisah Simeon dan Hana.
  1. yang menuntun pada keselamatan dan pengharapan adalah Allah Roh Kudus sendiri, ini adalah anugrah.
  2. sehingga hal ini membawa kita ke dalam konsekuensi hidup benar dan saleh (berkenan kepadaNya)
  3. arti harapan adalah keselamtan yang Allah sediakan bagi sgala bangsa, sehingga Allah dimuliakan atas segalanya. Tidak ada tendensi kepentingan kita/pribadi sama sekali. Semua bicara tentang DIA bukan kita!
  4. Dan uniknya kepada siapa berita keselamatan disampaikan membuktikan bahwa Allah tidak memihak golongan manapun (majus-orang terpelajar dan kaya, gembala-sederhana) dan juga gender (simeon – pria, dan hana-wanita)

Mungkin kita sama seperti seorang gembala, yang mewakili orang yang menjalankan rutinitas sehari-hari, bosan dengan hidup yang biasa-biasa saja mungkin. Muak dengan semua kasus di bangsa kita, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Atau kita seperti Simeon dan Hana yang dengan tekun memiliki ‘idiealismenya’ sendiri. Walau di makan oleh umur, apa yang ia percaya akan datangnya hal yang baik dan dinantikan tidak pudar. Pada akhirnya mereka melihat pengharapan itu, bahkan lebih dari yang mereka duga.

Saya teringat akan Film Lord of The Ring. Dikisahkan bagaimana penduduk Middle earth sedang dilanda ketakutan karena kekuatan Iblis Sauron dan Penyihir putih yang masuk ke dalam kegelapan, Sarunman, yang mengancam mereka. Seringkali ada dialog baik oleh Lord Elrond maupun Faramir (adik dari Boromir) bahwa ‘there is no hope’, ‘hope already left us’, dan ‘dont trust the hope’. Tapi pada akhirnya kita tahu sendiri, kemenangan terjadi.

Pengharapan yang kita pegang bukan pengharapan yang kosong dan tak masuk akal, apabila kita melihat dalam sudut pandang yang benar. Bagimana Allah berkarya bagi dunia ini. Tanpa melepas tanggung jawab kita dalam peran masing-masing. Jangan-jangan kita lah masalahnya. John Stott menuliskan demikian “We should not ask, 'What is wrong withthe world?' for that diagnosis has already been given. Rather we should ask, 'What has appened to salt and light?' "

Sudahkan di natal dan tutup tahun 2012 mempersiapkan kita untuk memiliki sebuah pengharapan yang benar? Bukan sekedar melihat keluarga dipulihkan, keuangan membaik, ekonomi meningkan, kesehatan terjaga, pasangan hidup yang cinta Tuhan, pelayanan yang lancar, studi yang bagus, tidak ada perang, dll. Tetapi bagaimana pengharapan berbicara tentang keselamtan yang Allah berikan kepada semua bangsa. Tidak ada salahnya dengan harapan-harapan di atas. Tetapi apakah kita sudah melaksanakan misi Allah dan mengerti bahwa semua pengharapan kita sebenarnya sudah terpenuhi waktu Yesus datang ke dalam  dunia. Hal yang sebenarnya lebih mulia, besar dan luar biasa, daripada segala pengharapan kita yang mungkin bersifat egosentris. Kiranya kita dapat mengevaluasi diri dan memiliki suatu pengharapan yang benar. Kiranya Allah juga memberkati pengharapan orang  yang berkenan kepadaNya. Gbu

(Ditulis oleh Nandasetya - @nandasetyakk)


4 comments

Write comments

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^