Foreigners Heroes: Bule Cinta Indonesia - Part 1

8:37 AM 11 Comments A+ a-


Mencintai bangsa sudah tentu menjadi kewajiban setiap warga negara atau rakyat bangsa tersebut. Tetapi jika ada warga negara yang mencintai bangsa atau negara yang bukan asalnya, bahkan bukan hanya cinta tetapi menunjukan cinta itu dengan berkarya bagi bangsa yang harusnya ‘asing’ bagi dia. Hal ini baru luar biasa.

Siapakah saja mereka, orang-orang asing yang mungkin kita sering sebut sebagai ‘bule’ yang mencintai dan berkarya bagi bangsa Indonesia? Kenapa mereka melakukannya? Dan Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini? Mari kita simak contoh-contoh di bawah ini.



Ketika berbicara tentang heroes saya teringat suatu tayangan televisi favorit saya yaitu ‘Kick Andy’. Program yang inspiratif yang mengupas kisah orang-orang yang memberikan dampak kepada orang-orang sekitarnya. Program yang dipandu oleh Andi Noya ini tiap tahunnya memiliki acara khusus yang dinamakan Kick Andy Heroes yang berisi kumpulan orang-orang yang tayang di Kick Andy tahun itu dan dipilih beberapa yang paling berkesan oleh panelis. Nah, berkaitan dengan ‘bule’, saya teringat akan dua orang pahlawan asing yang meraih gelar Kick Andy Heroes. Dia adalah Chanee Brule (Kick Andy Heroes 2012) dan Robin Lim (Kick Andy Heroes 2011).

Chanee Brule

Dikutip dari www.kickandy.com/heroes Chanee Brule adalah seorang warga Perancis berusia 32 tahun, seorang penyelamat satwa liar di Kalimantan Tengah. Ia mendirikan Yayasan Kalaweit Gibbon dan Program Konservasi Siamang Primata Langka serta mendirikan Radio Gibbon tahun 2003 di Palangkaraya dengan jumlah pendengar sebanyak 15.000 orang. Ketertarikannya kepada hewan Primata timbul sejak umur 12 tahun.

Yayasan Kalaweit Gibbon bertujuan untuk menyelamatkan primata dan hewan-hewan yang terancam punah akibat kebakaran hutan, perburuan dan perdagangan hewan langka. Dalam aksinya, yayasan ini melakukan pendekatan kekeluargaan dengan pemeliharaan hewan langka. Chanee aktif membujuk orang-orang yang memelihara hewan langka untuk melepaskan hewan tersebut dan mengembalikannya ke hutan. Sedangkan Radio Gibbon digunakan sebagai wadah untuk mengkampanyekan program penyelamatan hutan dan hewan langka. Radio ini memfokuskan acaranya pada program-program yang disukai oleh kalangan anak muda sehingga kampanye-kampanye lingkungan.


Saat ini, Yayasan Kalaweit yang didirikan oleh Chanee telah memiliki pusat rehabilitasi hewan di Pararawan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Lahan seluas 8 hektar itu dihuni oleh 130 ekor Wawa, 6 Beruang dan 2 Buaya. Setiap tahunnya, 50 ekor primata telah berhasil diselamatkan dan direhabilitasi kembali ke habitat aslinya di hutan Kalimantan. Dengan adanya program konservasi penyelamatan hutan gibbon Kalimantan, sebanyak kurang lebih 100 KK masyarakat di sekitar hutan Kalimantan Palangkaraya merasa aman dari ancaman perambahan hutan untuk perkebunan kelapa sawit.

Robin Lim

Robin Lim adalah bidan profesional yang berasal dari AS dan telah tergabung dalam North American Registry of Midwives dan Asosiasi Perbidanan Indonesia (Indonesian Midwifery Association). Robin, juga menjabat sebagai Executive Director dari Yayasan Bumi Sehat dan HealthDirector dari Tsunami Relief Clinic di Aceh. Yayasan yang dididirikan oleh Robin itu kini sudah membangun sebuah klinik yang kecil, berkualitas, dan `friendly' serta pusat kesehatan untuk para ibu, anak-anak, dan pusat persalinan. 


Robin sering di sebut sebagai "barefoot midwife" melalui upayanya dalam mempromosikan proses kehamilan yang sehat, persalinan yang alamiah dan nyaman, serta memberantasan kemiskinan dan kekurangan gizi atau gizi yang buruk. Ia memiliki beragam pengetahuan persalinan—yang merupakan percampuran dari beragam kebudayan dan tradisi. Pengalaman Robin melahirkan anak keempatnya dengan waterbirth di Hawai merupakan salah motivasinya untuk mempelajari dan mengembangkan metode ini. Waterbirth adalah metode persalinan yang dilakukan di dalam air. “Di samping bisa mengurangi rasa sakit sekitar seperempat kali, melahirkan di air juga bisa mengurangi risiko sobeknya vagina. Selain itu, dengan lahir di air, bayi tidak terlalu kaget karena masih dalam habitatnya (berada dalam cairan),” kata wanita kelahiran Arizona, USA, 24 November 1936 ini. Di Yayasan Bumi Sehat, Ubud, dia telah membantu sekitar 400 persalinan sekaligus memandu ASI ekslusif. Sekitar 30% dari persalinan tersebut dilakukan di dalam air.

Robin kini sudah menetap bersama keluarganya di Ubud, Bali. Dia juga telah mengarang banyak artikel, cerita, dan puisi—yang sebagian besar dipubliksikan dalam majalah Midwifery Todaydan newsletter The Birthkit. Bukunya After the Baby's Birth, A Woman's Way to Wellness dan Eating for Two, Recipes for Pregnant and Breastfeeding Women juga telah diterbitkan oleh Celestial Arts.

Yeah They are a heroes. How about you ? harusnya 2 contoh ini bisa meng’kick’ pikiran kita untuk minimal sekedar berpikir ‘man, gw indonesia asli tapi kok bule2 itu lebih indonesia dari gw yah kyknya’. Jadi apa yang akan kita kerjakan hai Indonesian Heroes?

Di tulisan selanjutnya akan ada 2 lagi "Foreigners Heroes" yang cinta berat sama Indonesia dan menunjukkannya lewat karya - karya yang luar biasa. Lanjut Baca Part 2

(Ditulis oleh Nandasetya - @nandasetyakk)

11 comments

Write comments
Apr 18, 2016, 6:55:00 PM delete This comment has been removed by a blog administrator.
avatar

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^