Sep 27, 2012

Yuk, Menjadi Pemimpin yang Amanah!


Pada PILGUB Jakarta 2012, banyak sekali persuasi yang diberikan oleh partai, timses, maupun tokoh masyarakat. Salah satu ajakan atau persuasi yang sering diangkat adalah untuk memilih pemimpin yang amanah. Seperti apakah pemimpin yang amanah? Apakah amanah itu menjurus untuk pemimpin dari suku, golongan atau agama tertentu? Mari kita lihat pembahasan sederhana ini J.

Amanah berasal dari bahasa Arab, mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Secara etimologi dalam bentuk mashdar, dari  amina – aminatan yang berarti jujur, dapat dipercaya atau kredibel. Dalam KBBI. amanah berarti pesan, perintah, keterangan dan wejangan. Hal ini membawa suatu pengertian bahwa orang yang tidak menjalankan amanah berarti tidak beriman dan tidak memberikan rasa aman baik untuk dirinya dan sesama masyarakat.

Secara terminologi terdapat beberapa pendapat, di antaranya menurut Ahmad Musthafa Al Maraghi, amanah adalah sesuatu yang dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat diambil suatu definisi bahwa amanah adalah menyampaikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang lain baik berupa harga maupun jasa. Berkaitan dengan kepemimpinan, amanah adalah hal yang mutlak diperlukan dalam segala tingkat kepemimpinan, baik pemimpin keluarga, masyarakat, perusahaan maupun pemimpin bangsa.

Hasyim Muzadi, Mantan Ketua Umum Nahdatul Ulama mengatakan bahwa bangsa ini membutuhkan pemimpin yang amanah. Artinya, ucapannya bisa diterima rakyat, figurnya bisa menjadi pemersatu bangsa, dan memiliki visi yang jelas. *Jangan sampai seperti lagu Armada “mau dibawa ke mana” bangsa ini*. Pemimpin amanah bisa menjadi figur pemersatu bangsa yang menggerakan potensi masyarakat yang besar dan tidak mencari-cari tempat untuk dirinya, tetapi berpikir bagaimana agar seluruh bangsa ini bisa mendapat hak yang sama. Beliau melanjutkan, sebagai manusia, pemimpin amanah bukan berarti tidak ada dosa, namun dosanya terhadap negara dan rakyat itu tidak ada, karena sangat sulit menentang korupsi jika dirinya sendiri terkena korupsi.

Dimensi kepemimpinan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia sehari – hari. Maju tidaknya suatu komunitas masyarakat dapat dilihat dari kualitas dan kondisi kepemimpinan di masyarakat tersebut. Kepemimpinan mampu menciptakan kebersamaan dan kolektivitas dinamis yang akan mampu membawa masyarakat untuk terus bergerak maju dalam meraih cita-cita bersama. Kepemimpinan yang kuat akan mampu menciptakan daya saing dan keunggulan yang tinggi bagi masyarakat yang dipimpin sehingga mampu berkomunikasi secara sehat di tataran lokal, nasional ataupun global.

Nah, kita sudah melihat bagaimana kaitannya kepemimpinan dengan amanah.

Kemenangan Jokowi dan Basuki (Ahok) dalam PILGUB Jakarta 2012 bisa jadi adalah pilihan terhadap pemimpin yang amanah. Jokowi punya cara pendekatan luar biasa, dicintai masyarakat Solo dan terdaftar sebagai 15 besar Walikota terbaik dunia karena keberhasilannya memimpin kota Solo. Beliau diingat terutama karena berhasil memindahkan PKL di Solo tanpa kekerasan. Jokowi dipercaya! Dia amanah tentunya. J

Bagaimana dengan Basuki? Beliau mendapat penghargaan sebagai tokoh anti korupsi dari Gerakan Tiga Pilar Kemitraan (KADIN, Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Masyarakat Transparasi Indonesia), artinya dia tidak ingin mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Mantan Bupati Belitung Timur ini dipercaya sebagai pendamping Jokowi. Walau dari ras dan agama minoritas, tidak membuat Ahok (panggilan khas Basuki) menjadi minder bahkan mundur namun berani tetap maju dalam PILGUB sebagai cawagub. Keberhasilannya sampai sejauh ini karena dia amanah! Dia dipercaya oleh masyarakat juga. J

Pemimpin dan manusia yang amanah tidak dibatasi oleh agama, ras, atau golongan tertentu. Ini berbicara karakter seseorang, bukan atribut tetapi kepribadian yang mendasar. Tentunya manusia tidaklah sempurna, saya sepakat dengan pendapat Hasyim Muzadi bahwa mereka mempunyai dosa dan kesalahan, namun dosa terhadap negara dan rakyatnya sedikit.

Hal ini pun sejalan dengan pendapat mantan Wakil Presiden RI, H. Jusuf Kalla ketika ditanya mengapa beliau lebih mendukung Jokowi daripada Foke, bukan karena Jokowi tidak mempunyai kesalahan, namun karena kesalahan Jokowi terhadap publik tidak sebanyak Foke.

Mari kita belajar menjadi pemimpin yang amanah dengan mempraktekkan karakter yang dapat dipercaya. J

(Ditulis oleh Nandasetya - @nandasetyakk)

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...