Re-Marriage - "Pernikahan Kembali "

9:03 AM 0 Comments A+ a-


Teks yang paling jelas menjelaskan mengenai pernikahan kembali adalah di dalam bagian 1 Korintus 7:39.  Pada bagian ini, Paulus ingin menjelaskan bahwa “seorang isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.” Hal ini berarti relasi pernikahan tidaklah permanen sampai pada kekekalan namun hanya di dalam sepanjang kehidupan.   

Pernikahan hanya mengikat sepanjang pasangan ini hidup. Oleh karena itu, pasangan yang sudah meninggal tidak mempunyai ikatan perjanjian pernikahan. Orang percaya yang mempunyai pasangan yang meninggal tidak mempunyai ikatan perjanjian pernikahan kembali, jadi pernikahan kembali dapat dilakukan oleh pasangan yang sudah ditinggalkan karena kematian ini.  Syaratnya pernikahan kembalinya adalah orang tersebut haruslah orang yang hidup di dalam Tuhan (1 Kor. 7:39).

Namun bagaimana dengan kondisi yang dihadapi orang percaya yang sudah diceraikan oleh orang yang tidak percaya? Apakah orang percaya ini masih boleh untuk menikah kembali? Apabila kita kembali kepada makna awal pernikahan yaitu adalah perjanjian bersama dengan Tuhan, maka orang yang percaya yang telah diceraikan tadi berhak untuk menikah kembali atau tidak menikah, namun setelah ia memiliki perjanjian bersama dengan Tuhan maka ia sudah tidak dapat menikah kembali selama pasangannya ada di dalam dunia. 

Di dalam konsep perceraian dan pernikahan kembali terdapat empat pandangan yang membagi pandangan orang-orang injili yaitu :

  1. Perceraian dan pernikahan kembali diperbolehkan karena alasan perzinahan dan desersi.  
  2. Perceraian diperbolehkan, tetapi tidak ada pernikahan kembali karena alasan perzinahan dan desersi.
  3. Perceraian dan pernikahan kembali tidak diperbolehkan karena alasan perzinahan, namun untuk alasan desersi perceraian diperbolehkan dan tidak boleh menikah kembali. 
  4. Perceraian dan pernikahan kembali tidak diperbolehkan dengan alasan perzinahan, namun perceraian dan pernikahan kembali diijinkan karena desersi.
Dalam hal ini penulis setuju dengan pendapat keempat karena penulis melihat Alkitab secara jelas mengajarkan untuk alasan perzinahan tidak diijinkan perceraian, namun karena alasan desersi yang pasif  orang percaya dapat diceraikan dan dapat menikah kembali. Pernikahan kembali dapat diijinkan asal sebelumnya orang yang diceraikan belum mengalami perjanjian pernikahan di dalam Allah.

(Ditulis oleh Fernandes - @nandeslim)