Sep 6, 2012

Perceraian dalam Perspektif Kristen


Di dalam Perjanjian Lama sangat jelas tertulis bahwa Allah membenci perceraian. Yesus pun mengajak para pengikutnya untuk mundur ke belakang dalam kisah penciptaan, dan berusaha mengingatkan mereka kembali bahwa Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan  (Kej. 1:27).  Allah menetapkan bahwa laki-laki setelah menikah akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej. 2:24).  Yesus pun kembali menekankan bahwa apa yang sudah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia (Mat. 4:4-6 dan Mrk. 10:6-9).

Namun disini muncul kasus bahwa di dalam Ulangan 24:1-4 tertulis bahwa Musa merancang perceraian di dalam peraturan untuk umat Israel.  Bagi Yesus tulisan-tulisan Musa tidak dikemukakan untuk mengganti maksud orisinil sang Pencipta mengenai pernikahan, tetapi hanya sebuah realita kekerasan hati manusia (Mat. 19:7-8; Mrk. 10:5; Mat 5:31-32).  Dalam Matius 19:9 Yesus menjelaskan bahwa Yesus seakan-akan mengijinkan perceraian karena alasan perzinahan.  Apakah ayat ini dapat digunakan orang Kristen untuk menceraikan pasangannya karena perzinahan ? Pada Injil Sinoptik yang lain yaitu Markus 10:11-12 dan Lukas 16:18 tidak menyebutkan pengecualian ini. Maksud Yesus menjelaskan bagian ini bukanlah mengijinkan perceraian, dengan membuat pengecualian.

Kata “perceraian” yang digunakan disini adalah porneia yaitu berarti perbuatan ketidakkudusan khususnya masalah seksual selama masa periode pertunangan .  Di dalam Ulangan 24:1 pun frase Ibrani yang digunakan adalah erwat dabar yang mempunyai arti perbuatan tidak senonoh (berkaitan dengan seksual) selama periode pertunangan. Yesus tidak menggunakan kata moicheia yaitu perbuatan ketidakudusan khususnya masalah seksual pada masa pernikahan.  Yesus mengijinkan perceraian kepada pasangan yang masih dalam pertunangan karena calon pasangan berbuat hal yang tidak kudus.  Jadi dalam konteks kita masa kini pasangan yang boleh berpisah (bercerai) adalah pasangan yang belum melakukan janji pernikahan (membangun covenant) di dalam membangun rumah tangga.  Komitmen dalam pertunangan dan pernikahan sangat berbeda, karena dalam pernikahan adanya perjanjian manusia dengan Allah. Inilah konteks yang Yesus maksudkan dalam menjelaskan masalah perceraian ini.

Perceraian tidak dilegalkan sama sekali dalam pernikahan kristen. Tuhan Yesus sangat jelas sekali menekankan bahwa apa yang sudah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia (Mrk. 10:9).  Perceraian tidak pernah menjadi keinginan Allah, dan selalu hasil dari dosa. Manusia tidak mempunyai wewenang atau hak untuk dapat menggagalkan perjanjian pernikahan yang sudah dibuat antara Tuhan dan pasangan.Oleh karena itu pemahaman awal mengenai pernikahan perlu dipahami secara mendalam oleh masing-masing pasangan.

Paulus pun berbicara kepada jemaat Korintus di dalam 1 Korintus 7:15 tentang perceraian, Paulus menjelaskan bahwa apabila ada pasangan yang tidak beriman yang ingin menceraikan kita orang percaya, maka biarlah ia bercerai.  Ayat ini merupakan tambahan penjelasan pada ayat 11 dan 12.   Perceraian terjadi bukan karena inisiatif dari orang percaya, namun karena situasi khusus yang tidak diinginkan dan inisiatif ini dimulai oleh pasangan yang tidak percaya. Paulus dapat menginjinkan perceraian karena pernikahan keduanya tidak dimulai dengan sebuah perjanjian pernikahan di dalam Tuhan.

Lalu bagaimana dengan pernikahan yang di dalamnya hanya berisi dengan kenangan luka saja ? Pasangan yang dulu pernah dikecewakan dan disakiti karena ketidaksetiaan terhadap pasangannya. Adakah pasangan itu masih bisa mengasihi pasangan yang melakukan hal ini ? Disinilah maksud pernikahan sebagai perjanjian itu bekerja.  Allah selalu mengampuni pasangan-pasangan yang mau bertobat dan kembali kepada pasangannya. Jikalau Allah saja mengampuni dan menerima orang yang telah melanggar perjanjian pernikahan itu, maka setiap orang harus juga belajar untuk menerima dan mengampuni pasangannya.  Kasih pengampunan inilah yang seharusnya membuat pasangan itu berubah dan berjanji kembali untuk hidup setia. Pemahaman pernikahan adalah sebuah perjanjian inilah yang seharusnya benar-benar dipahami oleh orang-orang yang akan mengambil komitmen pernikahan.  Komitmen ini tidak hanya berbicara mengenai masa-masa yang senang atau sulit saja, namun mungkin saja pahit. Pahit maksudnya adalah pasangan sudah perlu siap untuk menerima kalau suatu kali nanti ia melihat pasangannya berlaku tidak setia dan menyakitinya.

(Ditulis oleh Fernandes - @nandeslim)

Reactions:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...