Knowing Life

3:40 PM 0 Comments A+ a-

Judul ini bermula dari sebuah pemikiran bahwa bagaimana hidup lebih dari sekedar hidup. Hal ini bukan hanya bicara how tetapi why. Minimal melalui tulisan ini kita bisa melihat sebuah pintu masuk dalam memikirkan hidup secara lebih serius.

Hidup bukan sekedar berbicara tentang bernafas, walau sebagai mahluk hidup kita harus bernafas. Hidup bukan sekedar sebuah eksistensi atau keberadaan kita dalam batasan ruang dan waktu. Hidup mempunyai sebuah esensi dan esensi hidup tidak berada di dalam hidup melainkan di luar hidup. Hal ini dikarenakan kita tidak mempunyai kuasa untuk mengatur waktu hidup kita. Karena semua realitas hidup akan berhadapan dengan kematian. Sayangnya manusia jadi berpikiran sempit. Karena hidup ini terbatas mereka berusaha mencara esensi atau why hidup di dalam hidup yang terbatas ini. Bentuknya pun terkadang mengarah kepada pemuasan diri jika tidak demikian bagi mereka esensi hidup ini adalah sekedar menjalankan hidup seperti mengisi waktu luang. 

James Emery White dalam bukunya You Can Experience a Purposeful Life, mengklasifikasikan ada tiga tingkatan hidup.

  • Pertama adalah Survive atau bertahan. Dalam falsafah hidup ini seorang hidup hanya untuk bertahan hidup. Seorang bekerja dari pagi sampai malam untuk mendapatkan uang. Setelah itu uang yang didapat akan digunakan untuk membeli makanan dan minuman. Semuanya hanya untuk alasan bertahan hidup.
  • Kedua adalah Success atau sukses. Sudah tentu setiap kita ingin yang namanya sukses. Arti sukses disini adalah pemenuhan kebahagiaan melalui power atau kekuasaan, prestige atau kebanggaan, prosperity atau kemakmuran harta, pleasure atau kesenangan. Kalau manusia bisa mencapai 4 hal di atas maka ia disebut sukses. Dan tentu saja banyak manusia mengejar hal ini. Ada tujuan yang ingin dikejar yaitu sukses. Tidak sekedar bertahan tetapi berusaha lebih dari itu kalau bisa lepas dari beban pekerjaan namun tetap menghasilkan uang. Ingin punya yang namanya financial freedom dalam arti sudah tidak memikirkan bagaimana mencari uang tetapi kita sudah seperti magnet untuk uang, punya passive income, kita pasif tetapi dapat income. Inilah yang sebagian besar diinginkan oleh semua orang. 
  • Ketiga adalah Significant atau kebermaknaan. Dalam tingkatan hidup ini manusia seakan-akan jemu dengan kemakmuran material, entah karena sadar akan orang lain atau bosan karena kebanyakan uang. Manusia sadar esensi kebahagiaan bukan dibeli dengan uang saja. Manusia sadar bahwa hidup ini ada orang lain, sesama manusia. Tetapi sebenarnya bermakna bukan sekedar melakukan sesuatu untuk orang lain tetapi menangkap visi apa yang Allah lakukan di dunia ini melalui apa yang dia ingin kita lakukan.

Bachtiar Chandra malah menunjukan hidup bermakna saja tidak cukup, karena semua orang bisa mencapai itu, walau sedikit. Ada tingkatan hidup di mana setiap anak Tuhan harus menuju kesana atau lebih tepatnya harus memilih untuk ke sana. Melalui bukunya True and Simple Life for Christian, beliau menuliskan ternyata ada 3 macam hidup.

Hidup yang berfungsi, ini sama seperti hidup sukses. Motto dari hidup ini adalah “i am something”. Tolak ukurnya, segala keberhasilan yang membanggakan, karir yang sukses, kaya, keluarga yang bahagia, dihormati orang, pribadi yang unggul. Hal yang tentunya seperti yang saya katakan menjadi hal yang didambakan semua orang. Hidup seperti ini diwujudkan dengan membangun self image dan self esteem, memanfaatkan “power in you”. Fokusnya sama seperti yang dikatakan oleh Abraham Maslow dalam puncak piramida maslow yaitu Aktualisasi diri. Tetapi seiring berjalan waktu dan usia pilar – pilar yang menopang hidup yang berfungsi tanpa bisa dicegah akan hilang

Kalau saya boleh ilustrasikan sama seperti 40 tahun pertama Musa. Sebagai seorang pangeran mesir dan anak putri Firaun dia mempunyai segalanya yang didambakan oleh banyak orang. Pusat hidupnya adalah dirinya sendiri. Dengan kapabilitas yang ia punyai ia merasa mampu melepaskan bangsa israel dari perbudakan mesir. Namun kita tahu bangsanya menolaknya.

Hidup yang bermakna. Hidup jenis ini lebih bersifat wholeness dibanding hidup jenis pertama. Ada integrasi terhadap hal-hal yang diabaikan dalam tahap hidup pertama. Pada tahap ini terkadang orang merasa memiliki kesuksesan namun masih tetap saja ada yang kosong. Pada kondisi umumnya manusia mulai mencari hal-hal di luar dirinya. Menjadi sukarelawan, donatur, aktif melayani di yaysan sosoal, agama. Manusia mencoba memikirkan orang lain. Kita bisa lihat orang-orang seperti Bill Gates, dan Oprah Winfrey yang mendonasikan bahkan mendirikan yayasan sosial karena sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Tetapi.... sayang seribu sayang sekalipun hidup bermakna terasa lebih dalam dan bernilai intinya tetap sama: berpusat pada DIRI SENDIRI. Yang membedakan hanya wawasan dunianya. Kalau diibaratkan makan, hidup untuk berfungsi adalah makan untuk kenyang sedangkan hidup bermakna adalah makan untuk sehat, tetapi sekali lagi ini adalah bentuk aktualisasi diri.

Contoh dalam kehidupan musa adalah 40 tahun berikutnya. Musa lari dari Mesir. Musa tidak lagi menikmati kemewahan istana dan menjadi gembala di midian. Slogannya adalah “i am nothing”. Seakan-akan segala pencapaiannya dalam 40 tahun pertama tidaklah berarti.

Dan ada hidup jenis yang ketiga...hidup ini disebut,

Hidup untuk Tuhan. Inilah jenis hidup yang diinginkan Tuhan. Slogan hidup ini adalah “God Is Everything”. Fokus hidup ini adalah Tuhan bukan diri sendiri. Hal yang utama adalah bagaimana kita hidup untuk kepentingan Tuhan dan rencanaNya. Bukan bagaimana agar kita sukses, kaya, atau sekedar membangun keluarga bahagia, aktif pelayanan gereja, dan lain lain. Tuhan menjadi segalaNya dalam hidup. Yang dikejar dalam hidup bukanlah kenyamanan diri tetapi apa yang Tuhan mau.

Kalau diilustrasikan kembali dalam hidup Musa, mari kita meninjau 40 tahun terakhir kehidupan Musa, saat Allah memanggil Musa. Bagaimana perjalanan hidup musa menggambarkan sebuah relasi dan kebergantungan Musa terhadap Allah. Dan bagaimana Allah membentuk Musa menjadi hambaNya.

Mungkin kita bisa merefleksi hidup seperti apakah yang kita jalani...

Tanpa kita sadar kadang arus dunia membawa kita hidup untuk diri sendiri. Kalau saya bisa singkat hidup ini hanya ada dua yaitu; Self Center atau God Center. Tergantung apa yang kita pilih. Dalam memilihnya ada tiga prinsip yang harus kita pahami bahwa kita memilih salah satu dari prinsip ini.

Prinsip Suplemen, dalam prinsip ini hidup untuk Tuhan terkadang kita jadikan sebagai sebuah suplemen (tambahan atau pelengkap) dalam menggapai kesuksesan. Jadi kita berpikir bahwa tidak lah apa-apa kita mau sukses atau mengejar ego pribadi kan masih bisa melayani Tuhan di gereja atau donasikan uang untuk lembaga misi. Atau bisa juga sebaliknya sambil mengikuti Tuhan kita menggapai ambisi pribadi (hidup berfungsi menjadi suplemen). Sayang sekali lagi hal ini tidak mungkin. Kecendrungan seperti ini hanyalah self center jenis hidup di atas harus dipilih bukan satu jenis dijadikan pelengkap bagi jenis hidup yang lain.

Prinsip Subtitusi, dalam prinsip ini jenis hidup yang satu digantikan dengan jenis hidup yang lain. Dengan kalimat singkat, mana yang kita pilih mau ikut kehendak Tuhan atau kehendak diri sendiri. Hidup ini pilihan. Bukan berarti kita tidak boleh kaya atau mengejar kehidupan yang layak namun apakah itu memang panggilan kita atau bukan. Untuk segala sesuatu ada tujuan kekelannya.

Prinsip Put First Thing First. Hal utama harus ditempatkan dalam tempat pertama. Kita tidak mungkin mendapatkan hal sekunder dengan menempatkannya sebagai primer tetapi kita bisa mendapatkan hal sekunder dengan menempatkan hal yang utama ditempat pertama.

Pilih lah bagaimana dan kepada siapakah kita akan hidup.

(Ditulis oleh Nandasetya KK - @nandasetyakk)

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^