Indonesia dalam Krisis Multidimensi

9:50 AM 7 Comments A+ a-

Critical ill Nation*
(*Negara yang sedang mengalami keadaan Kritis/Gawat)

Istilah di atas penulis ambil dari istilah kedokteran yaitu Critical ill Patient atau pasien gawat darurat.
Penderita gawat darurat mendadak dalam keadaan darurat dan terancam nyawanya atau anggota badannya bila tidak mendapat pertolongan secepatnya. Dari sini muncul berbagai prosedur Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD).

Jika dilihat dalam konteks bangsa dan negara maka Critical ill Nation sedang mencoba menggambarkan negara yang sedang ‘mendadak’ dalam keadaan darurat dan terancam rakyatnya jika tidak segara ditolong. Kata ‘mendadak’ menggambarkan sebuah kesadaran tiba-tiba bahwa negara ini dalam keadaan kritis, karena selama ini kita mungkin sedang dininabobokan keadaan yang sepertinya tanpa perang dan baik-baik saja.

Negara sedang kritis karena tertempa berbagai macam krisis multidimensi yang rumit dan gak karu-karuan. Sebelum berbicara tentang krisis bangsa, sebaiknya kita mengerti apa arti dari 'krisis' dan keadaan seperti apa yang dapat disebut sebagai suatu 'krisis'. Merriam Webster Colligate Dictionary memberikan beberapa definisi dari krisis, di antaranya sebuah waktu yang tidak stabil dan krusial atau keadaan dari suatu peristiwa di mana perubahan dibutuhkan atau sebuah situasi  yang mencapai fase kritis. Menurut  Seeger, Sellnow dan Ulmer dalam bukunya Communication, Organization, and Crisis menjelaskan bahwa krisis memiliki empat karakteristik yaitu:
1. tak teruga (kejutan)
2. menciptakan ketidakpastian
3. dipandang sebagai ancaman bagi tujuan penting,
4. butuh untuk dirubah atau berubah. 

Poin terakhir sejalan dengan pendapat Vanette bahwa krisis adalah proses transformasi di mana sistem lama tidak dapat lagi dipertahankan. Jadi krisis di sini bisa didefinisikan sebagai suatu situasi sosial yang tidak stabil, berbahaya, dan tidak pasti yang berkaitan  dengan aspek ekonomi, militer, pribadi, politik, atau urusan masyarakat, khususnya yang melibatkan atau dibutuhkan perubahan mendadak di masa yang akan datang. Secara sederhana istilah ini berarti 'masa ujian'  atau 'peristiwa darurat'.

Selain dari krisis alam yang terjadi secara  tidak terduga (letusan gunung berapi, tsunami dsb), sebagian besar krisis yang kita hadapi adalah akibat ulah manusia, seperti Krisis Keuangan Global 2008 (kegagalan peraturan), perang Irak (kegagalan intelijen), krisis iklim (keserakahan dan subsidi silang), dan banyak dari krisis ekologi kita. Kalau dilihat lebih jauh ini adalah sebuah krisis karakter, nilai dan moral.

Begitu juga dengan bangsa Indonesia. Negara yang diliputi oleh krisis, atau lebih tepatnya multikrisis dan multidimensi. Ketua Dewan Pakar Nasional Demokrat, Siswono Yudhohusodo, dalam metrotvnews.com (18/5/2010) menilai, saat ini Indonesia tengah mengalami sembilan krisis yang menghambat kemajuan bangsa. Krisis tersebut melingkupi, krisis identitas, krisis kepercayaan, krisis ideologi, krisis kebangsaan, krisis sistem politik, krisis manajemen negara, krisis kesejahteraan rakyat, krisis kedaulatan ekonomi, dan krisis lingkungan.

Berikut review beberapa persoalan bangsa yang masih terjadi dan belum terselesaikan dari kurun waktu minimal pasca reformasi Mei 98 sampai sekarang.

  1. Kerusuhan dan pembantaian massal bernuansa SARA seperti di Ambon, Poso, Sampit (Kalimantan Barat), Papua, dan terakhir kerusuhan di Koja antara Satpol PP dengan massa rakyat.
  2. Kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo yang entah karena riil bencana alam atau akibat kelalaian manusia dan demi kepentingan pengusaha tertentu.
  3. Belum adanya titik terang atas kasus Century Gate yang melibatkan banyak pihak (stakeholder) termasuk juga indikasi terkaitnya orang nomor satu di negeri ini.
  4. Adanya makelar kasus (Markus) di Departemen Pajak dan Kepolisian yang telah menyeret Gayus Tambunan yang justru menumbalkan peniup peluitnya Susno Djuadji.
  5. Usulan dana remunerasi sekian triliun rupiah di sejumlah lembaga tinggi negara yang sama sekali tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas dan mutu pelayanan publik.
  6. Pengajuan dana aspirasi Rp 15 miliar oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan dana perbaikan gedung DPR yang "miring" serta perumahan DPR sekitar 45 miliar rupiah.
  7. Kemenangan Anggodo atas Bibit - Chandra di pengadilan yang kian melemahkan citra Komisi  Pemberantasan Korupsi.
  8. Pemilihan Kepala Daerah yang hampir pasti dibarengi kerusuhan antar sesama pendukung calon Kada.
  9. Kasus video porno yang diindikasikan dilakukan oleh sejumlah artis masa kini yang meresahkan dan cukup menyedot perhatian media massa dan publik. Bisa saja ini sebagai pengalihan isu publik atas kasus korupsi  yang begitu besar dan jahat.
  10. Tercabutnya kebudayaan asli Indonesia dari dunia pendidikan kita. Pendidikan hari ini hanya dimaknai sebatas kompetensi. Hal ini secara sadar sesungguhnya akibat liberalisasi dunia pendidikan. Berbondong-bondong lembaga sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia mengejar gelar atau label sekolah atau perguruan tinggi internasional.
  11. Kasus terorisme yang merajalela, baru-baru ini di Solo dan Depok (2012), yang sangat meresahkan masyarakat di mana aparat keamanan menjadi sasaran. Kalau aparatnya saja sudah jadi sasaran siapa yang akan menjaga keamanan.
  12. Daftar ini bisa diperpanjang jika kita terus meng-update peristiwa-peristiwa yang menimpa bangsa mulai dari bencana, krisis energi, kerusuhan di Tarakan, minimnya prestasi olahraga, dan lain-lain.
Jelas sekali, selain dari krisis karena bencana alam, kebanyakan krisis yang terjadi di Indonesia akibat manusianya sendiri. Ini adalah krisis yang lebih fundamental yaitu krisis karakter, padahal pembangunan karakter (character building) adalah prasyarat bagi pembangunan negara secara menyeluruh (nation state building). Hal ini dapat menjadi akar bagi krisis-krisis yang lain.

Banyak pihak yang mungkin sudah merumuskan PNGD (Penanggulangan Negara Gawat Darurat). Ya, saya yakin masih ada orang di dalam pemerintah, menteri, anggota dewan yang berusaha untuk menyelamatkan negara ini. Tetapi kita selaku warga negara harus berjuang mendukung proses ini. Tidak mudah namun harapan selalu ada di tiap kepala yang mau berpikir, telinga yang mau mendengar, hati yang mengasihi, tangan yang bekerja keras, kaki yang mau melangkah, dan lutut yang bertelut berdoa. Bagaimanapun juga jangan pernah melupakan Tuhan dalam perencanaan dan dalam bersikap.

Sebuah kutipan dari mantan presiden USA, Ronald Reagan mengakhiri artikel ini.

“If we ever forget that we are One nation under God, then we will be a nation gone under”

Salah satu krisis yang penulis cermati adalah krisis energi dan teknologi. Hal ini tentu terkait dengan latar belakang penulis yang adalah seorang Mechanical Engineer. Seperti apakah krisis energi yang terjadi di Indonesia? Bagaimana kita bisa menyikapi secara strategis dan sistematis bagi kaum akedemisi ataupun secara praktis bagi masyarakat awam? Mari kita lihat bersama. (Lihat Artikel A Brief On Indonesia Energy Crisis)

(Ditulis oleh Nandasetya - @nandasetyakk)

7 comments

Write comments
Apr 18, 2016, 6:26:00 PM delete This comment has been removed by a blog administrator.
avatar

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^