Duta Kristus Di Tengah Krisis Energi di Indonesia

9:30 AM 4 Comments A+ a-


Duta Kristus di Tengah Krisis Bangsa sedang menggambarkan sebuah panggilan sebagai anak Tuhan di tengah dunia. Sebuah panggilan menjadi garam dan terang bagi dunia (bangsa). Sudah seharusnya kita tergelitik secara pikiran dan terketuk secara nurani, bahwa kita bukan hanya warga kenegaraan surga tetapi warga Indonesia.

Duta Kristus
Kata 'duta' dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti 'utusan'. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal adanya istilah duta besar. Kata ini digunakan dalam dunia politik dalam  hubungan luar negeri yang merujuk kepada seorang pejabat diplomatik. Pejabat ini ditugasi ke pemerintahan asing  atau ke sebuah organisasi internasional untuk bekerja sebagai orang yang mewakili negerinya. Tentu saja seorang duta besar menjadi representatif kekuasaan atau sebuah perjanjian diplomatik dari negaranya.

Dalam Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, istilah utusan sering diterjemahkan sebagai rasul. Kata 'rasul' dalam bahasa Yunani adalah apostolos berarti utusan, delegasi/ duta, seseorang yang diutus dengan perintah-perintah khusus, dan istilah ini khususnya diterapkan kepada dua belas murid Yesus Kristus (Bdk. Luk 6:13). Kata 'rasul' sendiri  adalah kata serapan dari bahasa Arab yang bermakna utusan. Seorang Apostolos  dalam konteks budaya saat itu berarti utusan, suruhan, wakil resmi yang diserahi misi tertentu, bukan hanya seorang penyebar suatu ajaran ataupun pengurus suatu perkara saja. Seorang Apostolos duta atau utusan tidak lebih besar daripada yang mengutusnya dan memberi kesaksian siapa yang mengutusnya (Bdk.Yoh 13:16), sehingga dalam Alkitab seorang Apostolos atau utusan atau duta mempunyai ciri khas yaitu bersaksi tentang Yesus Kristus (2 Kor 8:23, Kis 20:21).

Makna Duta Kristus menjadi jelas di sini. Kita adalah utusan Kristus, sebagai suatu representatif kekuasaan Allah di tengah dunia, sama pemahamannya bahwa kita ini diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah. Sebagai duta, kita mewartakan Kristus dan Kerajaan Allah. Kita menyuarakan bahwa Allahlah Raja atas semesta, dengan tidak meninggikan diri sendiri tetapi meninggikan yang mengutus kita. Duta Kristus adalah seorang pembawa pesan Kristus, yang tertulis dalam Alkitab, kepada dunia atau bangsa ini, sehingga di mana pun kita ditempatkan, melalui panggilan apapun, kita harus berdiri menegakan nilai-nilai kebenaran Kerajaan Allah.

Duta Kristus Di Tengah Krisis Energi
Bagaimana peran seorang Duta Kristus dalam menyingkapi krisis energi di Indonesia? Apakah cukup dengan melaksanakan hal–hal di atas saja kita sudah bisa dikatakan berperan sebagai duta Kristus? Lalu apa bedanya kita dengan orang lain?
Sebagai seorang duta atau utusan, kita menjadi wakil atau representatif dari yang mengutus. Kita membawa misi dari yang mengutus. Seperti pada pembahasan sebelumnya, misi yang kita bawa adalah mewartakan kebenaran Kristus dalam setiap vokasi/panggilan kita. Dalam bahasa Inggris kata vocation  yang dapat diartikan sebuah panggilan (divine calling of life) atau pekerjaan. Vokasi (dalam bahasa Indonesia) sekuler juga merupakan cara kita memuliakan Allah. Jadi pekerjaan kita berhubungan dengan panggilan hidup kita. Ini bukanlah masalah di mana kita bekerja tetapi masalah bagaimana dan mengapa kita bekerja. Bicara mengenai motivasi, tujuan serta cara kita bekerja. Hal ini menegaskan bahwa Allah berdaulat atas hidup kita termasuk di mana kita bekerja. Jika kita mau belajar taat dan mendengarkan tuntunan Allah maka tidak masalah di mana kita bekerja karena ada rencana Allah dalam hidup kita di sana.

Panggilan Allah kepada setiap kita jelas terdapat dalam Firman Tuhan. Kisah penciptaan menegaskan sebuah mandat budaya bagi kita semua (Kej 1:27 – 28). Kita diberi mandat untuk mengelola isi bumi ini dengan bertanggung jawab. Kita bukan pemilik (owner) tetapi penatalayanan (steward) atau manajer. Seorang duta Kristus di tengah krisis energi berarti sadar di mana pun dia bekerja, dia sadar akan panggilan bertanggung jawab akan menglola alam dan mengelola energi dengan baik. Hal ini bisa tampak dalam berbagai hal.

Pertama, seorang duta Kristus akan mempraktekan sebuah kebiasaan hidup yang hemat energi. Tidak mempunyai gaya yang sangat konsumtif berlebihan, seperti menggunakan tas serba guna ketika berbelanja. Memang ada beberapa kebiasaan yang sulit dan terkesan mahal awalnya, tapi dalam jangka panjang ini merupakan investasi yang murah. Membangun sebuah kebiasaan yang hemat energi tidaklah mudah dan terjadi begitu saja, seperti mengajarkan orang buang sampah pada tempatnya. Membangun kebiasaan harus dimulai dengan merubah cara berpikir. Diperlukan sarana edukasi yang tepat sasaran, seperti pengertian kenapa baterai atau alat elektronik tidak boleh dibuang sembarangan. Seminar lingkungan kepada warga khususnya pemimpin warga mulai dari tingkat camat sampai RT sehingga pelaksanaannya dapat terkontrol. Di Surabaya hal ini cukup bagus, seperti pelaksanaan lomba green and clean.

Kedua, dalam dunia kerja seorang duta Kristus harus mampu mengefesienkan penggunaaan energi. Dalam dunia manufaktur kita bisa ambil beberapa contoh, seperti mesin–mesin pabrik sudah menggunakan inverter sehingga penggunaan energi dapat dikendalikan dan dikontrol, penggunaan kertas bekas untuk mencetak dari printer dan penggunaan air yang bisa diperbaharui. Semua itu bisa dilakukan jika setiap karyawan membiasakan diri, dan diperlukan disiplin dan pengawasan dari pihak manajemen. Dalam hal ini setiap duta Kristus harus menjadi teladan, bukan hanya dalam perilaku yang hemat energi tetapi tegas dalam pengawasan.

Ketiga, pengembangan dalam eksplorasi dan eksploitasi sumber – sumber energi baru oleh seorang duta Kristus harus menjunjung nilai kemanusiaan dan ramah lingkungan. Dalam pengeksploitasiannya pun harus ada dampak nyata bagi warga sekitar, seperti lahan kerja, Corporate Social Responsibility, dan khususnya energi yang dikelola itu sendiri. Selain itu harus diperhatikan pengelolaan limbah maupun bahan baku dari pengembangan sumber energi itu sendiri. Contohnya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang menggunakan uranium. Ada ketakutan dari warga yang kurang teredukasi terhadap isu kebocoran nuklir dan mengakibatkan adanya radiasi nuklir, padahal limbah nuklir relatif bervolume lebih kecil dibanding dengan limbah yang dihasilkan oleh sumber daya energi lainnya, sehingga mudah di isolasi dan disimpan dalam rangka proteksi keselamatan manusia dan lingkungan.

Keempat, perlunya pemeratan teknologi khususnya di daerah – daerah terpencil di Indonesia. Dengan menggunakan mesin, proses akan menjadi lebih mudah dan efektif, mengurangi jumlah sampah dan energi yang terbuang karena mempercepat proses. Dengan menggunakan mesin pengering maka waktu pengeringan bisa dipersingkat. Dengan menggunakan mesin pemotong maka jumlah potongan akan lebih bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Masih banyak lagi seperti mesin daur ulang air, pembangkit listrik mikro dan sebagainya. Dalam sebuah kuliah umum Prof. BJ Habibie menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada teknologi canggih, yang ada hanyalah teknologi tepat guna. Kontribusi dari sarjana teknik mesin, elektro, dan industri sangat diperlukan dalam membuat teknologi mesin sederhana yang tepat guna.

Akhir kata seorang Duta Kristus mengambalikan segala yang ia lakukan untuk yang mengutusnya dalam hal ini kemuliaan hanya bagi Allah semesta alam saja. Semoga tulisan ini memperkaya kita dan mampu menggerakan kita untuk mau menjadi duta Kristus di tengah krisis energi bangsa. Soli deo Gloria.


Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.
-Amsal 14:34-

(Ditulis oleh Nandasetya - @nandasetyakk)

4 comments

Write comments

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^