Dipanggil Allah (Seri 1)

8:16 PM 0 Comments A+ a-


Akhir-akhir ini saya sering merenungkan tentang makna panggilan Tuhan bagi hidup saya dan bagi manusia… saya pun memahami terkadang dalam suatu titik kehidupan, saya bingung apa yang harus saya lakukan ke depan. Kebimbangan antara masa depan yang terbentuk dan keinginan hati sering juga menjadi pergumulan kita. Selama menjadi mahasiswa seakan2 penuh dengan idealisme dan visi…tapi pertanyaan saya ‘Sungguhkah itu benar2 visi dari Tuhan atau ambisi hati yang tak tersadari yang terbentuk karena suasana emosioanal atau kamp-kamp yang diikuti?’

Memang panggilan harus terus digumulkan, dan saya yakin kita semua terus bergumul. Tetapi tanpa kita sadari juga terkadang kita terkecoh antara panggilan dan ambisi pribadi…

Dalam SATE (Saat Teduh) dan PA (Pendalaman Alkitab) saya disegarkan kembali oleh Firman Tuhan.
Saya ingin membagikan hal ini Yes 6:1-10. Perikop ini menceritakan tentang Yesaya dipanggil oleh Allah. Waktunya ketika raja Uzia mati. Raja uzia adalah raja dengan kehidupan yang ironis. Dia memulai pemerintahannya dengan melakukan hal yang benar di hadapan Tuhan. Tetapi dia mengakhiri dengan kesombongan dan hidup tidak takut akan Tuhan dan menghina kekudusan Tuhan, dia mati karena ditulahi kusta. Anaknya Yotam melakukan hal yang benar, sehingga pada masa pemerintahannya, yehuda diberkati. Setelah itu anaknya Ahas menggantikan dia. Cucu dari Uzia ini tidak melakukan hal yang tidak benar di mata Tuhan, bahkan menyebabkan orang Isreal menyembah Baal (lihat. 2 taw 26-28)

Sepertinya Yesaya dipanggil saat kepemimpinan Yotam, tetapi ia dipersiapkan ketika Ahas berkuasa. Keadaan Isreal saat itu sungguh menyedihkan hingga Tuhan menggambarkan Israel sebagai kebun anggur yang tidak menghasilkan buah yang baik, dan digambarkan bagaimana keburukan moral dari orang2 Israel saat itu (Yesaya 5).

Perikop ini ingin menggambarkan beberapa hal:
1. PanggilanNya dimulai dengan Yesaya melihat kekudusan dan kemuliaan Allah (ay.1-4), bahkan para malaikat menutup mukanya dan hanya bisa berkata “kudus, kudus, kuduslah Tuhan…”, ungkapan 3x ini menunjukkan infinite holiness of God. Bahkan sampai asap memenuhi tahta Allah, karena kekudusanNya

2. Kekudusan Allah membuat Yesaya sadar akan ketidakkudusannya dan bangsanya (ay 5-6) dan ia hanya dapat berkata “ Celakalah aku, aku binasa…”

3. Tuhan pun menguduskan Yesaya dan dosanya diampuni (ay.7)

4. Dan Allah Sang Raja Semesta Alam, Sang Mahakudus, berbicara dari tahtaNya… “siapakah yang akan Kuutus…?” Sang Raja Maha Kudus bertanya siapa yang mau diutus, Oswald Chamber, menuliskan bahwa Allah tidak memanggil langsung kepada Yesaya.

5. Dan Yesaya dalam gentar dan taat merespon, “ini aku, utuslah aku” (ay.8)

6. Padahal ay 9-10 menunjukan bahwa tugas Yesaya tidak menyenangkan, Tuhan sedang menunjukkan bahwa hasil dari tugas yesaya adalah bangsa Israel tetap tegar tengkuk.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan buat kita:
1. Apakah kita sudah sadar bahwa panggilan Tuhan diawali dengan kita menyadari kekudusanNya ?
2. Apakah kesadaran akan kekudusan Allah membuat qt sadar dan merasa gentar, takut karena kita orang berdosa ?
3.Sadarkah kita Allah memanggil dan mengutus kita setelah Allah menguduskan dan melayakkan dan mengurapi orang tersebut ?
4. Allah tidak menekankan hasil tetapi ketaatan terhadap panggilan tersebut, maukah kita tetap taat walau hasil dari panggilan tersebut tampak gagal di mata manusia atau tidak berdampak langsung ?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(Ditulis oleh Nandasetya - @nandamichi7)