Dipanggil Allah : Refleksi Dunia Kerja (Seri 2)

11:47 AM 0 Comments A+ a-


Pada bagian pertama, saya berusaha melihat bagaimana panggilan Allah terhadap diri seseorang secara umum. Bagaimana panggilan hidup kita dimulai dengan melihat dan menyadari kekudusan Allah. Para mahasiswa yang baru lulus atau alumnus baru sering bertanya pada dirinya sendiri, “nanti mau kerja di mana yah??”. Saya tidak sedang mengeneralisasi karena ada juga yang sudah jelas panggilan hidupnya bahkan sebelum masuk kuliah atau saat kuliah, contoh beberapa teman saya yang mau menjadi hamba Tuhan atau jadi dosen.

Banyak mahasiswa yang kebingungan setelah lulus. Kebanyakan dari mereka memilih pekerjaan berdasarkan background jurusan yang menunjang, peminatan, prospek karir, lokasi pekerjaan, serta tidak lupa gaji + tunjangan. Tak sedikit dari mereka yang setelah masuk kerja menemukan kebosanan atau harapan yang tak terpenuhi di tempat kerja. Kita mempunyai banyak impian dan cita-cita saat menjadi mahasiswa, tetapi lambat laun kita sadar bahwa kita tidak mempunyai kuasa untuk melaksanakannya. Kita juga sering berganti tempat kerja sampai menemukan tempat kerja yang kita rasa 'cocok'. Bukan salah berganti tempat kerja, tetapi kita lupa atau mungkin tidak sadar bahwa  pekerjaan adalah sebuah panggilan dari Allah.

Dalam bahasa Inggris, ada sebuah kata menarik yaitu vocation  yang dapat diartikan sebuah panggilan (divine calling of life) atau pekerjaan. Vokasi (dalam bahasa Indonesia) sekuler juga merupakan cara kita memuliakan Allah. Saya menggunakan kata sekuler tidak bermaksud mendualisme antara sekuler dan rohani, tetapi John Piper menjelaskan bahwa istilah ini sedang menekankan antara sebuah vokasi yang tidak memiliki hubungan struktural dengan gereja. Jadi pekerjaan kita berhubungan dengan panggilan hidup kita. Kita bisa menjalani hidup yang sia-sia karena pekerjaan yang kita lakukan. Ini bukanlah masalah DI MANA kita bekerja tetapi BAGAIMANA dan MENGAPA kita bekerja. Kalimat ini menegaskan bahwa Allah berdaulat atas hidup kita termasuk di mana kita bekerja. Jika kita mau belajar taat dan mendengarkan tuntunan Allah maka tidak masalah di mana kita bekerja karena ada rencana Allah dalam hidup kita di sana.

Dalam Injil Matius pasal 5, dalam rangkaian kotbah di bukit setelah ucapan bahagia, Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk menjadi garam dan terang di tengah dunia, yang artinya membawa pengaruh kepada dunia. Bukannya salah kita bekerja bersama-sama di tengah saudara seiman, tetapi akan menjadi salah jika kita sekedar lari dari pekerjaan karena hanya merasa tidak nyaman di tengah lingkungan yang bukan terang. Inilah panggilan kita bekerja di tengah-tengah orang yang bukan percaya.

Paulus dalam 1 Korintus 7:17–24 pada ayat 20 menuliskan, “Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.”. Hal ini coba saya refleksikan bahwa apapun keadaan kita kita harus hidup seperti sewaktu Allah memanggil. Ayat 24 mungkin lebih jelas menjelaskan hal itu “Jadi, Saudara-saudara, bagaimanapun keadaanmu pada waktu dipanggil, hendaklah Saudara tetap hidup seperti itu bersama dengan Allah.” (BIS version). Implikasinya termasuk ketika kita bekerja dan tidak menyenangkan atau membosankan tidak boleh tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kita harus pindah dan cari tempat kerja baru. Sebaiknya kita bertanya dalam hati kita apakah kita sudah memuliakan Allah dan menyatakan kebesaran kuasa-Nya dalam tempat kerja kita? Apakah kita sudah menikmati Dia dalam pekerjaan kita bukan sekedar menikmati pekerjaan kita sendiri?

John Piper dalam bukunya “Don't waste Your Life” memaparkan 6 point bagaimana bisa melakukan hal ini.

  1. Kita dapat mengutamakan Allah dalam pekerjaan sekuler kita melalui persekutuan yang kita nikmati bersamaNya sepanjang hari dalam segala pekerjaan kita
  2. Kita mengutamakan Kristus dalam pekerjaan sekuler kita dengan rancangan kreativitas dan kerja keras kita yang penuh sukacita, penuh kepercayaan dan meninggikan Allah
  3. Kita mengutamakan Kristus dalam pekerjaan sekuler kita ketika hal itu mengkonfirmasi dan memperbesar gambaran kemuliaan Allah yang didengar oleh orang lain dalam pemberitaan injil
  4. Kita mengutamakan Kristus dalam pekerjaan sekuler kita dengan menghasilkan cukup uang agar kita tidak bergantung pada orang lain, sambil memusatkan perhatian pada manfaat dari pekerjaan kita dan bukan pada upah finansial
  5. Kita mengutamakan Kristus dalam pekerjaan sekuler kita dengan menghasilkan uang dengan keinginan untuk menggunakan uang kita untuk membuat orang lain bersukacita di dalam Allah
  6. Kita mengutamakan Kristus dalam pekerjaan sekuler kita dengan memperlakukan jaringan relasi yang diciptakannya sebagai suatu pemberian dari Allah yang harus dikasihi dengan menceritakan injil dan dengan tindakan-tindakan praktis untuk menolong mereka.
Orang yang menerima panggilan seharusnya seperti menerima hadiah. Ketika Allah memanggil kita dalam vokasi sekuler kita harus mempunyai sikap siap sedia. Kesiapsediaan bagi Allah berarti bahwa kita siap untuk melakukan hal terkecil dan terbesar. Itu berarti kita tidak mempunyai pilihan mengenai hal yang ingin kita lakukan, tetapi apapun yang merupakan rencana Allah kita siap di sana dan siap sedia, termasuk pekerjaan yang membosankan. Pekerjaan membosankan adalah salah satu ujian terbaik untuk menentukan keaslian sifat kita. Pekerjaan ini jauh berbeda dengan pekerjaan ideal kita. Ini bisa jadi pekerjaan berat, kasar, melelahkan dan kotor. Hikmat Allah sangat dibutuhkan apabila kita mengalami hal ini karena Allah sedang memproses kita.

Oswald Chamber mengatakan bahwa kesiapsediaan berarti mempunyai hubungan yang benar dengan Allah dan mengerti di mana kita berada. Allah mengatur segala sesuatu, dan di mana pun kita ditempatkan sasaran utama kita adalah mencurahkan hidup kita dalam pengabdian segenap hati kepada-Nya untuk pekerjaan itu.

Satu ayat terakhir untuk menutup tulisan ini. (Pengkhotbah 9:10)

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati,
ke mana engkau akan pergi.

(Ditulis oleh Nandasetya - @nandasetyakk)