(Dilema) Pernikahan yang Bermakna

1:44 PM 0 Comments A+ a-


Sebagai Hamba Tuhan, pegangan atas standar kebenaran Firman Tuhan haruslah menjadi pondasi utama dalam membina pastoral jemaat yang sedang mengalami masalah perceraian.  Permasalahan pernikahan, perceraian dan pernikahan kembali dalam kehidupan orang Kristen bukanlah hal yang mudah diputuskan. Banyak sisi-sisi dilematis yang akan dihadapi jemaat. Perceraian merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar untuk dijauhkan dari kamus kehidupan pernikahan orang-orang Kristen.  Hal ini dikarenakan sudah dipersatukan oleh perjanjian pernikahan dalam Tuhan.

Melihat kondisi krisis dalam memutuskan perceraian ada dilema yang terjadi yaitu masalah komitmen yang sudah dibuat.  Konflik yang begitu hebat terjadi di dalam relasi pasangan, mungkin ada masalah sakit hati yang mendalam, membenci pasangan, sampai pada kasus kekerasan dalam rumah tangga. Satu sisi kita sebagai hamba Tuhan menekankan tidak boleh terjadi perceraian, karena Tuhanlah yang memegang perjanjian pernikahan, namun di sisi lain kita tidak dapat melihat anggota jemaat kita yang berkonflik dengan pasangannya terus disiksa baik dari sisi fisik maupun psikologis.Ada dilema kita sebagai hamba Tuhan dalam menyelesaikan masalah ini apalagi kalau sampai masuk ke dalam ranah hukum. 

Dilema yang kita hadapi adalah satu sisi kita akan taat kepada Firman Tuhan dalam menyelamatkan pernikahan mereka namun di sisi lain kita akan perjuangkan kehidupan yang baik (tanpa penyiksaan di dalamnya) dalam berkeluarga.  Dilema terjadi semakin kuat apalagi saat berhubungan dengan menghilangkan nyawa, apabila tidak bercerai maka pasangan akan dibunuh dan sebagainya.  Hal pertama yang dapat dilakukan oleh hamba Tuhan adalah menyelamatkan nyawa pasangan yang disiksa dan setelah itu membimbing keduanya.

Sebagai hamba Tuhan yang setia terhadap kebenaran Firman Tuhan, kita seharusnya tidak menyarankan pasangan untuk melakukan perceraian. Allah membenci perceraian (Mal. 2:16), Allah tidak menghendaki pasangan yang sudah memutuskan menikah di dalam Allah melakukan perceraian.

Ketika terjadi dilema dalam memutuskan perceraian, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah jangan buru-buru melihat perceraian sebagai satu-satunya solusi pemecahan menyelesaikan masalah. Sebagai anak Tuhan, kita perlu menghilangkan jauh-jauh pemikiran itu.  Seharusnya kita duduk bersama dengan pasangan yang sedang berkonflik untuk melakukan penjernihan masalah.

Masalah yang terjadi terkadang begitu pelik sampai-sampai pihak yang berkonflik tidak menemukan akar permasalahan, namun apabila permasalahan belum kunjung jernih, tahap selanjutnya yaitu berpisah untuk sementara waktu. Tahap ini diadakan apabila masing-masing pasangan tidak menemukan akar permasalahan dan enggan berkomunikasi menyelesaikan masalah. Berpisah sementara waktu berguna bagi pasangan dalam memikirkan masalah yang dihadapi, dan pada tahap ini dapat dilakukan terapi konseling untuk mencari akar permasalahan.

Tahap selanjutnya adalah tahap mengampuni pasangan. Sebagai orang percaya yang sudah berjanji dan berkomitmen di hadapan Tuhan, pengampunan kepada pasangan merupakan harga mati yang perlu dikerjakan.  Penulis percaya Tuhan Allah yang sudah berkorban bagi kita anak-anak-Nya akan memberikan kita kekuatan untuk mengampuni pasangan yang melanggar perjanjian. 

“… Pernikahan yang penuh makna …”

Pernikahan adalah penyatuan satu orang laki-laki dan satu orang wanita di dalam keberdosaannya untuk sama-sama bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus. Tujuan pernikahan adalah supaya Allah berkenan hadir dalam relasi perjanjian pernikahan ini.

Pernikahan yang berkenan di hadapan Tuhan bukanlah hanya pernikahan yang baik-baik dan tanpa konflik di dalamnya, malah dengan adanya konflik terkadang membuat komitmen pasangan semakin teruji dan kedekatan pun terjadi.  Sikap kedewasaan dan pemahaman akan pernikahan Kristen mutlak perlu dipahami oleh pasangan sebelum menikah.  Pasangan harus benar-benar mengerti makna pernikahan sebagai sebuah perjanjian (ada komitmen bersatu, dan komitmen pengampunan [redemptive]), dan Allah sangat membenci perceraian. Oleh karena itu setiap anak-anak Tuhan perlu membuka mata lebar-lebar dalam memilih pasangan hidup yang nantinya akan menjadi partner hidup selama hidupnya.  

(Ditulis oleh Fernandes - @nandeslim)