Adam : Go Green, Gue Banget ! (Series 1 of 3)

10:01 AM 4 Comments A+ a-


We must learn to know creation As Adam began know it - Steven Bouma

Pernahkah saudara membayangkan untuk menjadi manusia ciptaan pertama yang hidup dalam Taman Eden (taman yang dikenal begitu indah dan sempurna)?

Mari kita membayangkan diri kita menjadi Adam yang berdiri di dalam Taman Eden. Ketika kita sampai, kita  disambut dengan warna-warni hamparan bunga yang indah ada bunga sakura, tulip, dan mawar yang indah, dan bunga-bunga lainnya. Rupanya kita juga mendengar suara gemercik air  yang berbisik-bisik di telinga kita dari suatu sungai, di dalamnya terdapat berbagai macam ikan yang penuh dengan aneka warna yang memukau.  Sambil menikmati bunga-bunga di taman, mata kita juga dimanjakan dengan sekumpulan hewan-hewan gemuk ada yang berlari-larian, ada yang sedang makan rerumputan, ada juga yang sedang tertidur. Berbagai macam buah-buahan segar juga menghiasi seluruh taman itu.  Semuanya siap memanjakan hidup kita. Nah sekarang timbul dalam pikiran kita yang sudah tercemar dosa, apakah yang akan kita lakukan di taman itu?
Apakah waktu kita melihat bunga, kita akan berkata: “Wah bunga ini akan kupetik dan kutaruh di rumah sebanyak-banyaknya.”
Waktu kita melihat sapi yang gemuk kita berpikir: “Wah dagingnya pasti enak kalau dibuat steak, bisa dimakan setiap hari deh.”
Waktu kita melihat emas kita juga berpikir: “Wah saya bisa kaya nih.”
Pertanyaannya adalah apakah Adam dahulu berpikir seperti itu? Apakah Adam berpikir semua yang ada berguna untuk kepuasannya saja? Saya rasa tidak, mengapa?

Mari kita mengenal Adam dengan lebih dekat dan mengetahui mengapa Adam tidak mungkin berpikir demikian. Kita akan melihat perilaku dan sikap Adam di dalam taman itu dan kita juga dapat mengetahui peran Adam dalam kehidupan manusia mula-mula berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan (selanjutnya disebut go green). Kita juga akan melihat hubungan antara kekristenan dan go green serta kontekstualisasi peran Adam dalam kehidupan murid Kristus masa kini.  
  
ADAM:PARTNER ALLAH

Adam adalah manusia pertama yang ditulis di dalam Alkitab. Ketika Adam hidup pertama kali di Taman Eden, Ia mendengar Firman Allah datang kepada-Nya dan menolong Adam mengenal diri-Nya. Yang pertama, Adam mengerti bahwa dirinya diciptakan segambar dan serupa Allah (Kej. 1:26).  Adam menjadi rekan kerja Allah dalam mengelola dengan baik Taman Eden yang begitu indah itu.  Yang kedua, Firman Tuhan juga memberitahu dia bahwa ia adalah pengusaha dan pemelihara taman itu (Kej. 2:5;15). 

Ketika Allah membuat segala ciptaan-Nya, Ia membedakan penciptaan manusia dengan ciptaan yang lain.  Keduanya memang diselesaikan bersama pada hari keenam, namun ada yang spesial dilakukan Tuhan ketika Ia mencipta manusia. Manusia dikatakan diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Ada sebuah kepercayaan yang Tuhan berikan kepada manusia. Oleh karena itu peran-peran Allah seharusnya nyata di dalam diri manusia yang diciptakan segambar dan serupa diri Allah. Selain itu hal ini juga menunjukkan bahwa Adam diciptakan secara unik dibandingkan ciptaan yang lain. Tidak ada penekanan yang khas pada saat Tuhan Allah menciptakan hewan atau tumbuh-tumbuhan. Hanya kepada Adamlah (manusia pertama), Allah menciptakan segambar dan serupa diri-Nya.

Selain itu dalam Kejadian 2:7 dikatakan bahwa manusia (’ādām)  dibentuk dari debu tanah (’ădāmâ) yang kemudian Allah menghembuskan napas kehidupan. Melalui permainan kata ini, Firman Tuhan ingin menunjukkan bahwa manusia bukan hanya diciptakan oleh Allah tetapi manusia merupakan produk lokal dari bumi. Ia diciptakan dari bahan yang diambil Tuhan dari bumi (keberadaan Adam tidak dapat dipisahkan identitasnya yang berasal dari bumi). Kata manusia di dalam bahasa Latin disebut human yang berarti dibentuk dari humus (tanah).
Memang kata human bukan dari bahasa asli Alkitab tetapi kata ini menunjukkan pemahaman orang pada masa itu. Kita melihat satu sisi Adam diciptakan segambar dan serupa Allah, namun di sisi yang lain Adam juga diciptakan juga dari bumi. Hal ini menunjukkan bahwa Adam haruslah menjadi manusia yang membumi.  Ada tanggung jawab untuk menjaga ciptaan Tuhan di bumi (asal Adam diciptakan) agar tetap baik. Dalam kejadian 1:31 pun Allah memandang semua ciptaannya baik. Allah ingin Adam menjadi partner-Nya dalam mengelola taman itu sehingga tetap baik. Ketika Adam menjaga dan merawat bumi maka Adam telah melakukan peran-peran Allah yang nyata dalam di dalam bumi ini. Dengan demikian Adam dipercaya Allah sebagai perwakilan-Nya untuk mengelola dunia.

Dalam Kejadian 2:15, Adam memahami statusnya sebagai rekan kerja Allah dalam mengelola taman itu, Adam juga sadar bahwa ia ada untuk melayani dan menjaga  taman itu (melayani dan menjaga oleh penulis disebut  mengelola). Sebagai pelayan dan penjaga, tentu Adam sadar bahwa dirinya bukanlah owner (pemilik) tapi sebagai partner (rekan kerja) Allah dalam mengelola Taman Eden.

Darimana kita mengetahui Adam adalah seorang pelayan dan penjaga yang baik? Kita melihat bukti bahwa Adam mengelola taman dengan baik karena yang pertama kondisi Adam yang belum jatuh dalam dosa pastilah dekat dan taat kepada Allah. Jadi ketika Allah memerintahkan manusia untuk mengelola taman pastilah Adam melakukannya dengan sebaik-baiknya. Adam taat kepada Allah, dan untuk memahami maksud Allah, Adam dapat berkomunikasi langsung dengan Allah (Kej. 1:28; 3:9).
Yang kedua, Adam menerima perintah dari Allah untuk menamakan hewan-hewan yang ada di bumi (Kej. 2:20).  Pemberian nama bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Adam. Pada bagian lain di Alkitab pemberian nama seseorang biasanya dibutuhkan sebuah kedekatan khusus relasi keduanya. Si pemberi nama perlu bergaul erat kepada sesuatu yang dinamakan. Nama mencerminkan identitas. Sebagai contoh, nama Abram menjadi Abraham mempunyai arti bapak orang banyak, Yakub menjadi Israel mempunyai arti dia yang bergumul dengan Allah.  Dalam memberikan nama kepada hewan-hewan, Adam berelasi dengan baik, tidak hanya asal saja menyebut nama. Pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan waktu yang panjang. Adam setia melakukannya, tanpa protes kepada Allah. 

Adam begitu memahami dirinya sebagai partner Allah yang mempunyai otoritas dalam ciptaan yang lain, namun Adam sadar bahwa ia ada untuk mengelola Taman Eden bukan hanya sekedar mengeksploitasinya.  Adam mengelola bukan mengekploitasi dan tujuan utama Adam bukanlah menikmati ciptaan lain untuk dirinya sendiri tetapi untuk bertanggung jawab kepada mandat Allah.

Nah kita sudah menemukan kan si Adam ngapain aja di sana? Adam memang mengelola taman dengan baik dan dia setia kepada Tuhan tanpa mencari keuntungan pribadi.

(Ditulis oleh Fernandes - @nandeslim)

4 comments

Write comments

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^