A Brief of Indonesia Energy Crisis; New Energy Resources

8:31 AM 7 Comments A+ a-


Krisis energi adalah kekurangan (atau peningkatan harga) dalam persediaan sumber daya energi ke ekonomi. Krisis ini biasanya menunjuk ke kekurangan minyak bumi, listrik, atau sumber daya alam lainnya. Krisis ini memiliki akibat pada eknomi, dengan banyak resesi disebabkan oleh krisis energi dalam beberapa bentuk.

Seluruh dunia merasakan dan memikirkan krisis energi. Inti dari permasalahan energi dunia adalah ketidakseimbangan permintaan (demand) dan penawaran (supply) serta akses terhadap sumber daya energi.

Menurut Departemen Kementerian Luar Negri berbagai faktor yang menciptakan ketidakseimbangan tersebut antara lain adalah pesatnya laju pertambahan penduduk dan masifnya industrialisasi dunia, terutama kenaikan biaya produksi listrik yang menyebabkan naiknya biaya produksi. Bagi para konsumen, harga BBM kendaraan meningkat menyebabkan pengurangan keyakinan dan pengeluaran konsumen. Diperkirakan hingga tahun 2030, konsumsi energi dunia masih tergantung kepada energi minyak bumi yang tidak terbarukan.

Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan sumber daya alamnya pun juga merasakan krisis energi. Menurut penelitian, Indonesia yang termasuk dalam anggota OPEC akan kehabisan stok bahan bakar minyak dalam 10 tahun lagi. Dalam 30 tahun, bahan bakar gas yang kini menjadi pilihan pemerintah untuk menanggulangi masalah krisis energi lewat program konversi minyak tanah ke gas, juga akan habis. Munculnya kelangkaan serta tiadanya jaminan ketersediaan pasokan minyak dan gas (migas) di negeri sendiri merupakan kenyataan paradoks dari sebuah negeri yang kaya sumber energi. Hal ini disebabkan tingginya ketimpangan antara produksi dan konsumsi energi nasional.

Berdasarkan laporan Kementerian ESDM tahun 2009, rata-rata produksi minyak bumi dan kondensat sebesar 963.269 barel per hari (bph), sedangkan BP Migas melaporkan produksi minyak secara nasional pada tahun 2010 hanya naik 965.000 bph. Artinya hanya terdapat angka kenaikan 1.731 bph. Kebutuhan konsumsi energi nasional sekitar 1.400.000 bph. Artinya terdapat selisih cukup tajam antara tingkat produksi yang ideal dengan kebutuhan. Hal ini meningkatkan konsumsi energi dunia secara drastis dan mengakibatkan tersedotnya cadangan energi khususnya energi fosil.

Ketimpangan antara tingkat produksi dan konsumsi energi tersebut mengakibatkan krisis energi skala nasional. Salah satunya adalah Krisis Listrik. Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) beberapa saat lalu yang tidak diimbangi dengan kualitas pelayanan publik secara tidak langsung menyebabkan merosotnya pertumbuhan perekonomian nasional secara makro.

Solusi Krisis Energi: Sumber Energi Baru
Salah satu solusi yang sering dibicarakan adalah dengan menggunakan batu-bara. Di Cina, batu-bara telah memenuh hingga 70% dari total konsumsi energi nasional. Afrika telah mengkonsumsi 90% kebutuhan energi lewat penggunaan batu-bara. Hal serupa juga dilakukan India, yang telah memakai energi lewat penggunaan batu-bara sebesar 60% sampai 70% (www.bppt.go.id). Di Indonesia cadangan batu-bara melimpah ruah, diperkirakan sebesar 36.5 milyar ton.

Solusi lain yang ditawarkan adalah dengan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. PLTN adalah sebuah sistem pembangkit listrik yang memanfaatkan energi inti atom yang luar biasa besar. Energi yang dihasilkan dari reaktor nuklir sangat besar. Sebagai gambaran, 1 gr bahan nuklir 235 U dapat menghasilkan energi listrik bersih sebesar 24,58 x 109 J. Apabila sebuah TV mempunyai daya sebesar 100 watt, maka dengan 1 gr 235 U hasil reaktor nuklir dapat menyalakan TV tersebut selama 24,58 x 107 s atau sama dengan 7,78 tahun terus-menerus tanpa dimatikan. Sebagai perbandingan dengan batubara, satu kg bahan nuklir dapat menghasilkan energi panas setara dengan 2400 ton batu-bara. Inilah yang menyebabkan PLTN begitu prospektif untuk menghidupi kebutuhan energi masyarakat dunia.

Sebagai informasi, PLTN menggunakan bahan baku uranium. Indonesia memiliki cadangan uranium yang bisa dimanfaatkan untuk bahan baku pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mencatat cadangan uranium di Indonesia sebanyak 53 ribu ton, dengan rincian sebanyak 29 ribu ton di Kalimantan Barat, dan 24 ribu ton sisanya di Bangka Belitung. Papua juga diindikasikan memiliki cadangan uranium yang cukup besar, tetapi hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Adanya dugaan Papua menyimpan cadangan uranium untuk bahan baku nuklir dalam skala besar didasarkan pada kesamaan jenis batuan di Papua dengan batuan di Australia yang telah diketahui menyimpan cadangan uranium terbesar di dunia. Deputi Pengembangan Teknologi Daur Bahan Nuklir dan Rekayasan Batan, Djarot S Wisnubroto, memberikan gambaran bila sebuah PLTN seukuran 1.000 MW membutuhkan 200 ton uranium per tahun, maka cadangan di Kalimantan Barat yang jumlahnya mencapai 29 ribu ton uranium bisa memasok uranium selama 145 tahun.

Solusi lain paling memungkinkan untuk diterapkan di Indonesia adalah Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTAngin). Pemanfaatan energi angin merupakan pemanfaatan energi yang paling berkembang saat ini. Berdasarkan data dari WWEA (World Wind Energy Association), sampai dengan tahun 2007, perkiraan energi listrik yang dihasilkan oleh turbin angin mencapai 93.85 GigaWatts, menghasilkan lebih dari 1% dari total kelistrikan secara global. PLT Angin ini pada prinsipnya memanfaatkan angin yang tersedia di alam. PLT Angin mengkonversikan energi angin menjadi energi listrik dengan menggunakan turbin angin atau kincir angin. Energi angin yang memutar turbin angin diteruskan untuk memutar rotor pada generator di bagian belakang turbin angin, sehingga akan menghasilkan energi listrik. Energi Listrik ini akan disimpan ke dalam baterai sebelum dapat dimanfaatkan. Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42 Km, potensial untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga angin. PLT Angin dapat dimaksimalkan pemberdayaannya di sekitar pantai di Indonesia. Selain digunakan di daerah pesisir pantai, PLT Angin juga dapat digunakan di daerah pegunungan dan daratan. 

(Ditulis oleh Nandasetya - @nandasetyakk)

7 comments

Write comments
Apr 18, 2016, 6:29:00 PM delete This comment has been removed by a blog administrator.
avatar
Gege Dai
AUTHOR
May 31, 2016, 12:50:00 PM delete This comment has been removed by a blog administrator.
avatar

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^