Sep 1, 2012

Syarat Menjadi Pemimpin


Setiap organisasi atau kelompok memerlukan seorang pemimpin. Tidak peduli seberapa besar organisasi tersebut. Tanpa adanya pemimpin maka kelompok atau organisasi tersebut tidak mempunyai arah  atau tujuan yang jelas. Kalau sudah tidak punya arah dan tujuan yang jelas maka kelompok tersebut akan terpecah belah dan lambat laun akan bubar. Pemimpin akan membantu anggotanya untuk melihat tujuan yang akan mereka capai bersama. Lalu bagaimana bisa menjadi seorang pemimpin? Ada pepatah pemimpin itu dibentuk bukan dilahirkan maksudnya bahwa kepemimpinan adalah suatu seni di mana pelaku yang menjadi pemimpin belajar dan berproses untuk menjadi pemimpin. Memang ada orang – orang yang memiliki potensi menjadi pemimpin karena bakat atau karunia. Orang jenis seperti ini akan mudah dalam proses belajarnya menjadi seorang pemimpin tetapi tetap saja dia harus belajar dan berproses menjadi pemimpin yang efektif. Hal ini bukan berarti orang yang tidak berbakat tidak dapat memimpin. Walau bukan harus seorang yang berdiri di depan dan mengatur segalanya. Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Selama orang tersebut dapat memberi pengaruh ia adalah seorang pemimpin. Yang membedakan pemimpin yang satu dengan yang lain adalah sebesar apa pengaruhnya.

Menjadi pemimpin adalah sebuah panggilan dan tanggungjawab yang tidak mudah. Ada banyak syarat yang ditulis dalam buku – buku kepemimpinan bagaimana menjadi pemimpin. Tetapi saat ini saya mengajak kita melihat apa yang dikatakan dalam Alkitab. Dalam suratnya yang kedua kepada Timotius, Paulus banyak memberikan anak mentornya mengenai bagaiamana tetap kuat dalam pelayananya. Salah satu nasehat Paulus adalah bagaimana Timotius dapat mendelegasikan pengajaran Paulus, sehingga perkembangan pengajaran Injil makin efektif. Tentu saja bukan sembarang orang, mereka adalah orang yang bermentalitas pemimpin. Dalam surat sebelumnya (1 Tim 3) Paulus memberikan syarat-syarat memilih penilik dan diaken jemaat. Alasan lain adalah syarat yang diungkapkan Paulus sendiri dalam surat nya tersebut (2 tim 2:2) adalah karakter seorang pemimpin. Mari kita lihat apa yang dikatakan Paulus kepada Timotius:

“Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2)

ada dua hal yang ditekankan Paulus di sini yaitu:
1.  Reliability (dapat dipercaya)
    Artinya seorang pemimpin adalah seorang yang dapat dipercayai pengikutnya dan mampu menciptakan pengikut yang dapat dipercayai juga. Dia seorang Faithfull Man atau orang yang setia. Orang seperti ini adalah orang-orang yang setia dalam memikul tanggungjawab yang diberikan oleh atasannya. Tidak hanya dalam perkara besar tetapi perkara kecil.  Stephen R Covey pengarang 7 habits menuliskan pemimpin yang dipercaya  adalah seseorang yang tidak diragukan lagi memiliki kredibilitas pribadi yang kuat, memiliki kemampuan untuk membuat dan menumbuhkan kepercayaan interpersonal  orang lain, dan yang kemudian mampu memperluas kepercayaan secara organisasi. Hal – hal yang dapat kita kembangkan agar menjadi pemimpin yang dapat dipercaya antara lain:
  • Jujur, katakan yang sejujurnya kepada orang lain, jaga integritas dan jangan memutar kebenaran
  • Hormat, pedulilah pada orang lain, tunjukan itu jangan hanya dipikiran dan dimulut saja. Hormati     setiap orang dalam setiap perannya, bahkan hormatilah orang yang tidak dapat melakukan apa – apa buat kita.
  • Rendah Hati. Buat segala sesuatu menjadi benar ketika kita salah, minta maaflah secepatnya. Belajarlah rendah hati terhadap semua orang. Jangan sampai kita sombong ketika melakukan hal yang benar.
  • Setia. Lakukan semua tanggungjawab dengan tepat waktu dan tepat sasaran.  Dan berikan penghargaan bagi mereka yang setia juga. Dan jangan mengeluh setiap waktu.

 2.    Ability (Cakap)
    Aspek ini bicara tentang pengetahuan, kemampuan atau kompetensi. Seorang pemimpin tentu harus mampu memimpin. Dibutuhkan keahlian, karena kepemimpinan adalah sebuah seni. Kompetensi apa yang diperlukan dalam memimpin? Ada banyak tetapi ada beberapa yang perlu:

      a. Skill Komunikasi
      Seorang pemimpin harus dapat mengkomunikasikan apa yang ada di kepalanya kepada orang lain. Bukan pandai bicara, tetapi usahakanlah segala sesuatu disampaikan dengan jelas dan sederhana. Belajarlah mendengar orang lain dan memberikan respon yang tepat.
     
      b. Skill Manajerial
     Pemimpin harus seperti seorang manajer. Peter Drucker menggambarkan bahwa Manajer itu Make things right, maksudnya ia membuat segala sesuatu dengan benar. Hal ini bicara how atau bagaimana. Pemimpin harus dapat membuat perencanaan dan mengungkapkan strategi bagaimana dapat kesana. Ia harus pandai mendefinisikan realita dan mencari permasalahannya. Ia pun tahu bagaimana caranya mendelegasikan tugas dengan baik, tidak mengerjakan semuanya sendirian.

Butuh komitmen untuk menjadi seorang pemimpin. Kita semua bisa menjadi pemimpin (termasuk anda). Tetapi terkadang dalam realita kita salah memilih pemimpin dalam sebuah organisasi. Orang yang kurang kompeten kita pilih dengan alasan yang penting ada hati dulu. Saya rasa Allah pun tidak demikian. Amsal menegaskan bahwa tanpa pengetahuan, sia – sialah kerajinan. Jadi rajin dan tekun saja tidaklah cukup. Harus terus meningkatkan skill menjadi pemimpin. Reliability tanpa Ability maka akan menjadi lumpuh sebelah organisasinya. Ingat kisah Musa, mungkin ada bagian di mana Musa mengatakan ia tidak pandai bicara, jangan salah 40 tahun sebelumnya ia adalah seorang pangeran Mesir yang dididik dengan skill komunikasi tentunya. Allah membentuk hati musa yang penuh dengan ambisi. Jadi sering kita lihat bahwa banyak organisasi yang sampai masa akhir kepengurusan atau jabatan tidak menunjukan sebuah perubahan dan peningkatan yang signifikan, bisa jadi ini karena pemimpinnya. Tentu saja jika sebaliknya Ability tanpa Reliabilty adalah kehancuran.

Kita dapat melihat kedua hal tersebut melalui track recordnya. Ada orang yang dijadikan pemimpin padahal kontribusinya buat organisasi sebelumnya sangatlah minim. Itu sudah menunjukan tidak bertanggungjawab dan tidak kompeten. Ada orang juga yang mengira dengan kehadirannya yang sering di organisasi atau acara organisasinya dia layak jadi pemimpin. Perlu dicamkan loyalitas itu bukan sekedar ada atau hadir. Tetapi loyalitas adalah kehadiran di tambah kompetensi. Tidak sekedar OT (omong tok!). Mungkin kita berpikir daripada tidak ada pemimpinnya lebih baik ada yang mau. Inilah yang disebut sindrom mesias. Mau jadi penyelamat bagi organisasi dengan sekedar melihat realita bukan panggilan untuk memimpin. Itulah Ambisi dan itu keliru. Hal yang terakhir adalah jangan takut perubahan. Jangan berkata Tidak Bisa dulu. Percayalah Allah memberi kita kesanggupan jika benar Dia memanggil kita. Mari kita  belajar dan berproses dalam Reability dan Ability.

 (Ditulis oleh Nandasetya KK - @nandasetyakk)

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...